Collective Efficiency : Growth Path For Small-Scale Industry

COLLECTIVE EFFICIENCY : GROWTH PATH FOR SMALL-SCALE INDUSTRY

Oleh :

Nurlita Widyasari; Dameria Panjaitan; Adipati Rahmat

Abstrak

Perkembangan perusahaan industri kecil yang sifatnya lokal di negara-negara berkembang dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Untuk memahami perkembangan industri-industri kecil yang sifatnya lokal dinegara berkembang tersebut, dalam berjuang agar mencapai suatu tingkat pertumbuhan dalam skala ekonomi; harus dimulai dengan melakukan pemahaman atas sejarah terciptanya konsep klustering, termasuk keunggulan-keunggulan yang bersifat kompetitif; yang muncul akibat adanya proses agglomerasi ekonomi dan joint action. Collective Efficiency, sebagai Growth Path For Small-Scale Industry merupakan kolaborasi sejarah dimana konsep klustering tercipta akibat efisiensi kolektif yang dibuktikan sebagai kunci kesuksesan bagi industri-industri kecil untuk maju dan berkembang.

1. PENDAHULUAN

Hubert Schmitz merupakan seorang ekonom yang cerdas. Bagaimana beliau menyampaikan ide-idenya dengan dibalut dalam proses rangkaian sejarah dan bukti-bukti (walaupun sangat sedikit yang bersifat statistik), merupakan hal yang sangat menarik.

Menurut Hubert Schmitz, memperhatikan bagaimana suatu perusahaan dapat mencapai suatu tingkat keberhasilan dalam tingkat industri kecil lokal merupakan hal yang sangat menarik. Pada awal 1990an, perusahaan-perusahaan industri bersaing secara sangat kompetitif terhadap masuknya produk impor atau perdagangan internasional. Karena itu, strategi perusahaan-perusahaan industri untuk membangun anak perusahaan baru ataupun melebarkan variasi usaha menjadi lebih sulit, walaupun kepentingan untuk dua hal tersebut dipandang tidak sangat mendesak.

Untuk mudahnya, Hubert Schmitz mencoba memfokuskan kepada bentuk tertentu dari struktur industrialisasi (daripada mencoba menggambarkan keseluruhan struktur ekonominya), yakni memfokuskan kepada proses terjadinya klustering ditingkat industri kecil.

Maksudnya disini adalah, tumbuh dan berkembangnya perusahaan-perusahaan industri dimuali dari terkonsenterasinya kegiatan ekonomi secara sektoral dan geografikal (agglomerasi ekonomi). Karena itu, Klustering disini, dibuktikan mampu membuka peluang efisiensi yang hanya skala industri kecil mampu mencapainya. Konsep dari efisiensi kolektif sendiri dimaksudkan untuk menangkap keuntungan-keuntungan tersebut. Konsep tersebut diartikan oleh Hubert Schmitz sebagai keuntungan kompetitif yang dihasilkan dari proses lokal ekonomi dan usaha kerjasama dalam wadah kluster.

2. INTI DARI KLUSTERING DAN ELABORASI EFISIENSI KOLEKTIF

Pendekatan Lama

Hubert Schmitz menjelaskan terlebih dulu pendekatan-pendekatan lama yang sudah ada. Dimana, untuk dapat lebih memahapi konsep dibalik klustering, Kita akan mencoba memaparkan 2 pendekatan paling berpengaruh dalam timbulnya konsep klustering, yang terjadi jauh di awal tahun 1950an. Dua pendekatan tersebut adalah adanya proses proteksi dan subtitusi dari produk impor yang masuk. Yang mana keduanya secara otomatis akan mendorong pembentukan perusahaan industri baru dan atau peningkatan dari perusahaan industri yang sudah ada. Pembentukan dan peningkatan tersebut ternyata memiliki kendalanya tersendiri. Sebagaimana disebutkan, bahwa, pembentukan perusahaan baru itu diakibatkan karena tidak adanya respon atas kebutuhan, akibat kebutuhan lokal atas rasio impor meningkat sangat jauh. Sedikit catatan bahwa, kebanyakan upaya diatas tersebut menemui hambatan karena tidakadanya bantuan Pemerintah atas kebutuhan dalam memperoleh bahan baku, teknologi dan tenaga kerja.

Dalam perkembangannya kemudian, industri kecil berkembang sangat subur, dengan pengertian bahwa sektor informal, dipengaruhi oleh dua skenario, yaitu :

• Skenario optimistik, melihat bahwa, peluang tumbuhnya produsen kecil kedepannya akan terbuka sangat lebar. Hal ini diasumsikan bahwa produsen kecil ketika menemui hambatan-hambatan, akan mendapatkan kemudahan dari Pemerintah.

• Skenario pesimistik, merupakan kebalikan dari skenario optimis dalam adanya hal bantuan dari Pemerintah. Dianggap bahwa, pertumbuhan industri kecil terkendala dalam kerangka marjinalisasi, termasuk karena adanya batasan-batasan dari Pemerintahnya sendiri.

Pada akhirnya, perkembangan dari industri kecil tersebut bukan hanya merupakan hasil dari tekanan bisnis dan persaingan usaha, namun juga karena adanya peluang-peluang dan inisiatif dari perusahaan-perusahaan itu sendiri untuk maju.

Pendekatan Baru

Titik awal pemahaman kita adalah dengan berupaya untuk memahami perbedaan dari :

• Produsen terbagi secara geografis dan sektoral. Kategori ini secara kasar dapat digolongkan sebagai industri-industri kecil lokal yang berbasis agrikultur.

• Klustering industri kecil. Klustering dimaksudkan sebagai upaya untuk mengintegrasikan konsentrasi geografis dan sektoral. Berbeda dengan kategori sebelumnya, klustering industri kecil memiliki banyak variasi dalam menghasilkan klasifikasi tenaga kerja, tingkatan upah, struktur, tingkat inovasi dan spesialisasi tersendiri.

Namun pada kenyataannya produsen-produsen kecil tidak serta merta dapat dikategorikan kedalam dua kategori diatas. Dengan kata lain perbedaannya akan menjadi semakin tidak jelas. Karena itu pendekatan baru tidak akan terkungkung oleh batasan-batasan normatif. Yang bagaimanapun, bagi produsen perbedaan-perbedaan tersebut tidak menjadi halangan untuk meraih manfaat dari klustering (salah satunya adalah efisiensi kolektif) baik yang terencana maupun yang tidak terencana.

3. ANALISIS DARI STUDI-STUDI EMPIRIS

Untuk memberikan nilai kritis, kita perlu mencermati contoh-contoh sejarah yang sudah ada melalui analisis studi empiris. Terkait dengan proses klustering perusahaan-perusahaan industri, studi empiris dilakukan untuk menjelaskan bahwa pengalaman perusahaan dan kondisi institusional-ekonomis yang terus berubah akan meningkatkan efisiensi kolektif walaupun kadang tidak mendesak. Kita akan mengambil contoh pertama di Eropa.

Klustering Industri di Eropa

Untuk memahami munculnya proses klustering pertama kali di Eropa, kita harus melihat konsep yang disebut “Third Italy”. “Third Italy” merupakan konsep yang dicetuskan oleh Arnaldo Bagnosco, yang dimulai pada akhir tahun 1970an. Pada saat itu, terlihat bahwa ketika perkembangan ekonomi skala kecil di kawasan kumuh Italia Utara atau disebut juga Second Italy, sudah mulai berkembang. Sedangkan disisi lain yaitu pada bagian Barat Laut (First Italy) yang sejak lama terkenal sebagai daerah para penduduk kaya malah menghadapi krisis yang mendalam. Dibagian lainnya yaitu Italy bagian Timur Laut dan Italy Pusat ternyata juga menunjukkan pertumbuhan cepat. Perbedaan ketiga kawasan ini (Third Italy) kemudian menarik perhatian para ekonom. Salah satunya adalah Becattini, yang disebutkan mencetuskan bahwa munculnya konsep distrik industrial merupakan proses agglomerasi dari industri-industri kecil di Itali tersebut. Hasilnya adalah, klustering menciptakan pengaruh-pengaruh yang terdiri dari : kedekatan geografis, spesialisasi sektoral, predominansi dari perusahaan kecil dan sedang, kolaborasi intra-perusahaan yang berdekatan, kompetisi intra-perusahaan yang berbasis kepada inovasi, identitas sosio-kultural yang melahirkan kepercayaan, aktifnya kemandirian perusahaan, dan dorongan Pemerintah regional dan daerah; sebagai hal-hal yang berperan sangat penting dalam mendorong keberhasilan pertumbuhan ekonomi bagi industri kecil di Italy tersebut.

Kemudian berdasarkan Studi lain di Eropa, menyebutkan bahwa faktor-faktor yang disebutkan sebelumnya diatas tidak dapat diteliti satu persatu pengaruhnya, karena seluruh faktor tersebut baru dapat berfungsi efektif apabila faktor-faktor tersebut berjalan bersama-sama dalam konsep klustering tersebut.

Lalu, kita akan melihat banyak studi kasus lain, yang intinya dimana terjadi krisis, perusahaan-perusahaan akan mulai merestrukturisasi dan terbuka satu sama lain, bahkan para perusahaan yang berada pada kondisi yang setara dan sebelumnya saling berkompetisi. Bagi perusahaan yang lebih besar dan lebih kecil, hubungan terbina dengan cara yang lebih besar akan men-subkontrak perusahaan yang lebih kecil. Sehingga, walaupun masih perlu dilihat kembali apakah pola ini berlaku pada daerah dan sektor-sektor lainnya, namun pertanyaan sebenarnya adalah apakah setiap perusahaan memiliki kapasitas yang sama untuk merespon tekanan krisis untuk kemudian mengembalikan pertumbuhan ekonomi.

Klustering Industri di Negara-negara Berkembang

Mencari proses pertama klustering di negara berkembang dan berapa jumlah pastinya akan sangat sulit dilakukan karena data-data penunjang dalam bentuk statistik sangat kurang. Namun berdasarkan tinjauan literatur yang ditemukan di Amerika Latin dan Asia, diperkirakan bahwa, proses klustering telah mencapai tingkat yang cukup mendalam dari segi struktur utama dan struktur pendukungnya. Walaupun utamanya merupakan fenomena urban, klustering juga dapat menjadi penanda terjadinya proses industrialisasi di rural area. Dalam kawasan urban, kluster yang berada pada kota menengah terlihat lebih berhasil, yang dibuktikan dari statistik dan kemampuan mereka untuk bersaing dalam segi ekspor.

Cara klustering diatur juga bervariasi. Hubungan vertikal bervariasi dari upaya perusahaan besar untuk mengatur struktur pekerja dari perusahaan yang lebih kecil, hingga perubahan perusahaan yang lebih kecil secara terus menerus untuk saling berkomplementer. Sedangkan hubungan horisontal digambarkan dengan terjadinya persaingan yang ketat diantara perusahaan-perusahaan yang setara.

Satu hal yang menarik, klustering di negara berkembang rupanya cenderung berasosiasi dengan sebentuk kesamaan identitas sosial-kultural. Sharing identitas ini sering memegang peranan untuk meletakkan dasar saling percaya satu sama lain, dan juga dalam meletakkan sanksi sosial bagi pelanggaran kompetisi yang tidak dapat diterima.

Kembali satu hal yang menarik, adalah, bahwa faktor yang membedakan klustering di negara berkembang dengan negara-negara eropa adalah keberadaan tenaga kerjanya. Seperti yang telah disampaikan bahwa, jumlah suplai tenaga kerja yang besar telah mendorong persaingan tenaga kerja yang berbasiskan kepada upah yang lebih rendah, dibandingkan kepada munculnya inovasi dan peningkatan kualitas.

4. CONTOH KASUS DI BRASIL

Keberhasilan Rio de Grande Sol, Brasil dalam hal ini adalah keberhasilan industri sepatu mengatasi krisis di tahun 1980-1990. Industri sepatu tersebut berhasil meningkatkan produksi ekspor mereka dari 0,5% hingga 12,3% ditahun 1970 hingga 1990; mengalahkan Itali dan Korea Selatan.

Untuk mengetahui bagaimana keberhasilan mereka, perlu dipahami kronologis peristiwa turning points mereka. Turning points mereka itu terbagi kedalam tiga masa, yaitu sebelum 1968,

Turning points pertama. Saat itu industri sepatu Brasil melayani kebutuhan sepatu dalam negeri. Disamping adanya bantuan dari Pemerintah, dengan melindungi dari proses masuknya barang-barang impor, Pemerintah juga memberikan bantuan berupa pemberian insentif- insentif, sehingga industri sepatu Sinos Valley tersebut mampu tumbuh dan berkembang. Namun peran dari klustering, baru terlihat secara jelas saat masuknya investor dari Amerika. Investor ini mencari supplier sepatu dari Brasil, karena industri sepatu brasil memiliki nilai upah yang rendah dan kompetisi yang tinggi. Namun kebanyakan industri- industri sepatu tersebut telah berada dalam kluster, sehingga ketika tawaran tersebut datang mereka dapat berembuk dahulu dengan cepat untuk menegosiasikan tawaran dengan baik. Sehingga pada intinya klustering menjadi basis dalam mendorong ledakan ekspor dengan menarik pembeli asing dan memfasilitasi upaya bersama para industri skala kecil tersebut.

Turning points kedua merupakan saat ketika terjadinya Chinese shock. Ini adalah masa dimana produk cina mulai membanjiri pasaran internasional, yang kemudian bersinggungan langsung dengan produk dari Amerika tersebut. Produsen Brasil mencoba beradaptasi dengan dua hal, yang pertama adalah meningkatkan kualitas produksi dengan menciptakan sepatu kualitas tinggi; dan yang kedua, adalah memindahkan lokasi produksi dekat dengan pembeli. Dengan demikian pembeli diuntungkan dengan jarak tempuh yang lebih dekat dan penyampaian order jadi lebih singkat, sehingga order dapat dilaksanakan berkali-kali.

Turning points ketiga berlangsung dalam periode yang sangat lama, hampir hingga dekade sekarang ini. Prosesnya disampaikan ringkasnya sebagai berikut. Pada jaman Turning points pertama, setidaknya terdapat 400 industri sepatu rumah tangga. Seiring dengan berjalannya waktu selama beberapa dekade, industri besar menghasilkan industri turunannya, dan industri yang dulu kecil, sekarang telah menjadi industri yang besar. Dan seterusnya. Dengan demikian, dengan memperhitungkan jumlah perusahaan yang semakin meningkat dengan cepat dari tahun 1970an tersebut, diperkirakan saat in telah berkembang perusahaan hingga 3.000an perusahaan.

Kurva pertumbuhan industri sepatu Brazil dari tahun 1970 hingga sekarang tidak berbentuk linear. Hal ini dikarenakan, beberapa perusahaan industri yang lebih besar mencoba berintegrasi secara vertikal dengan perusahaan yang lebih kecil selama booming ekspor, hal ini dikarenakan meskipun perusahaan-perusahaan besar tersebut telah memiliki jaringan suplier yang terintegrasi, namun mereka tidak mampu memenuhi tingkat permintaan yang semakin tumbuh. Juga terutama karena adanya masalah waktu pesanan dan pengiriman produk yang cukup lama karena jarak yang cukup jauh.

Hingga akhir 1960an, hubungan antara suplier dan customer sangat erat karena pada dasarnya mereka berasal dari komunitas yang sama. Saling mengetahui karakter satu sama lain, membuat munculnya budaya kebersamaan dan mencegah adanya praktek penipuan. Namun, pengaruh booming ekspor, membuat sesama perusahaan industri saling bersaing mengejar target produksi, akibatnya persinggungan dengan sesama perusahaan akan sering terjadi, dan upaya mengatasi perselisihan juga sedikit dilakukan akibat kesibukan masing-masing.

Hal-hal ini terjadi saat Chineese shock berlangsung. Dan pada dasawarsa terakhir, terbentuk kembali suatu hubungan manufaktur yang terkolaborasi dan saling berinteraksi untuk belajar atau berbagi ilmu. Alasan hal-hal positif ini terjadi adalah, bahwa adanya keharusan untuk menghasilkan kualitas yang lebih tinggi dalam waktu yang relatif singkat. Sehingga upaya-upaya perbaikan dilakukan, sehingga pada akhirnya klustering industri sepatu ini pulih dari Chineese shock dan kembali berhasil menaikan produksi ekspornya lewat mengurangi waktu tempuh dan meningkatkan kualitas.

5. HORIZONTAL RELATIONSHIP

Local Rivalry

Local rivalry merupakan salah satu bentuk hubungan horisontal. Hubungan ini terbentuk akibat tidak adanya upaya untuk saling bekerjasama untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu. Dalam contoh kasus di industri sepatu di Brazil, local rivalry tidak hilang karena berhenti berproduksinya suatu perusahaan industri, karena akan selalu ada perusahaan industri yang masuk dan menjadi penambah persaingan tersebut.

Di Sinos Valley, kompetisi antar sesama perusahaan industri itu sangat intens walaupun masing-masing perusahaan industri memiliki segmentasinya sendiri-sendiri. Hal ini karena di Brazil, persyaratan untuk ikut membentuk perusahaan industri baru sangat mudah dipenuhi, dan membentuk perusahaan industri sepatu sendiri sudah menjadi jalan untuk meraih status ekonomi dan ambisi.

Self Help Institutions

Self-help institutions merupakan suatu lembaga internal kluster yang dibangun atas dasar-dasar tertentu, yang pada umumnya berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksi, seperti contohnya, sekolah teknik untuk meningkatkan keahlian dalam mengolah kulit, peningkatan keahlian di bidang kimia dan mekanis, peningkatan keahlian dalam desain sepatu, hingga keberadaan badan teknologi terpadu dalam pengolahan kulit, sepatu dan lain sebagainya.

Identitas Sosial-kultural dan Kepercayaan

Ketika desakan produksi dan tenggat waktu yang pendek telah mempengaruhi proses transaksi dan hubungan antar perusahaan, maka disinilah pentingnya ada hubungan saling percaya antar pelaku industri. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa membentuk hubungan saling mempercayai tersebut. Di Sinos Valley, terdapat beberapa hubungan kekerabatan yang menjadi awal jembatan hubungan kepercayaan tersebut, yang biasanya adalah secara budaya, mereka merupakan pendatang, sehingga terbina perasaan saling terikat. Atau juga terbina akibat hubungan karena sama-sama merupakan warga asli daerah tersebut.

Keberadaan hubungan-hubungan seperti itulah yang melahirkan komitmen dan hubungan yang kooperatif, walaupun tingkat kepercayaannya terus berubah. Dengan demikian, terdapat tiga masa yang perlu diperhatikan terkait perkembangan hubungan kepercayaan akibat sosial-kultural tersebut yakni :

• Hubungan saling percaya akibat kekerabatan geografis ini hanya bertahan dengan baik hingga awal 1970an,

• Pada tahun-tahun berikutnya (1970-1980an) hubungan sosial-kultural melemah dan semakin sedikit pengaruhnya terhadap hubungan antar perusahaan industri,

• Dalam dasawarsa terakhir, hubungan kerjasama antar perusahaan industri kembali meningkat, dikarenakan, sulitnya bertahan akibat tidak membina hubungan kerjasama dengan perusahaan lain.

6. CRITICAL REVIEW

Atas pembahasan sebelumnya, terdapat beberapa poin yang perlu dikritisi, yakni :

• Pasca Perang (karena setting waktu studi ini adalah 1960an, yakni masa restrukturisasi ekonomi akibat dampak Perang Dunia II), sebagian kota-kota di Eropa terutama dapat dibedakan kedalam tiga bagian, yaitu : (1) kawasan Utara yang berkembang, (2) kawasan Selatan yang kurang berkembang dan, (3) kawasan Timur yang merupakan ex-sosialis. Namun, ketiganya memiliki kesamaan atas adanya harapan yang sangat tinggi, akan bahwa pertumbuhan industri skala kecil yang berupaya tumbuh, agas dapat membantu proses restrukturisasi, proses pemulihan ekonomi dan pada akhirnya akan menumbuhkan lapangan-lapangan kerja baru. Namun, kebijakan Pemerintah saat itu masih totaliter. Kebanyakan Pemerintah masih berupaya untuk turut campur dengan mengadopsi perusahaan industri yang lebih kecil karena memiliki asumsi bahwa, perusahaan industri yang lebih kecil tersebut memiliki masalah berupa: 1), terjadinya defisiensi dari dalam perusahaan industri itu sendiri, dikarenakan stress dan lain sebagainya; 2), adanya gejolak, akibat perubahan stabilitas politis dan tidak adanya kepastian hukum, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan dalam berusaha. Kedua asumsi tersebut diatas dapat dimengerti, namun mengadopsi seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, karena, yang mengerti solusi atas permasalahan tersebut adalah para perlaku usaha itu sendiri. Karena itu seharusnya pemerintah cukup memfasilitasi sebuah forum bersama untuk mengkaji masalah yang ada, dan memberikan kebijakan-kebijakan yang diperlukan.

• Sebagaimana disebutkan dalam perkembangannya klustering di Eropa sebelumnya, dapat simpulkan bahwa, Pemerintah dalam hal ini sangat kurang berperan dalam mendorong atau membantu perusahaan industri dalam meningkatkan daya saingnya. Karena itu disebutkan sebelumnya bahwa, distrik industri (klustering) di eropa bukanlah hasil dari kegiatan yang terencana, namun lebih bersifat spontan. Memang, Pemerintah telah memainkan peran mereka (kecil atau besar) dalam perkembangan industri baik di Eropa, Amerika Latin maupun Asia, namun konsep kluster bukan Pemerintah yang merencanakan, namun lebih kepada merupakan intuisi dari para pelaku usaha. Karena itu seharusnya Pemerintah menelurkan kebijakan-kebijakan yang membuat iklim usaha lebih kondusif, semisalnya menciptakan badan-badan semodel Komisi Pengawas Persaingan Usaha, atau Badan Pengawas Barang dan Komoditi. Yang fungsinya adalah menjembatani hubungan antar perusahaan industri yang besar dengan yang kecil agar keadilan tercipta, atau menjembatani hubungan dengan investor dari luar negeri. Diharapkan tercipta proses promosi dan investasi yang lebih kompetitif ditingkat internasional. Atau membangun klustering dalam bentuk suatu kawasan industri yang merupakan Bdan Usaha Dalam Negeri, seperti Free Trade Zone (FTZ).

One thought on “Collective Efficiency : Growth Path For Small-Scale Industry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s