Prinsip Lingkungan sebagai Pola Pendekatan dalam upaya meminimalkan Dampak Negatif Bencana Ekologi Situ Gintung

Tragedi rusaknya tanggul Situ Gintung di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, merupakan sebuah peristiwa bencana ekologi. Dimana daya dukung alam pada akhirnya melebihi kemampuannya akibat perencanaan yang tidak mengantisipasi kebutuhan dimasa depan. Paper ini akan mengulas bencana ekologis Situ Gintung berdasarkan prinsip pengelolaan lingkungan.

1. PENDAHULUAN

Pepatah tua diantara para planner adalah “if you fail to plan, in reality what you are doing is planning to fail” . Pada umumnya, seluruh lapisan masyarakat selalu menghadapi dilema ini. Dalam hidupnya, jika suatu masyarakat dalam bekerja, bermain, dan bersosalisasi tidak memiliki rencana kedepan, maka pada akhirnya masyarakat tersebut akan gagal untuk beradaptasi dengan perubahan.

Selman (2000) menyebutkan bahwa perencanaan lingkungan berkaitan dengan pengelolaan masyarakat secara kolektif terhadap sumber daya alam. Lingkungan dalam hal ini mengacu pada sistem fisik dan biologis yang memberikan dukungan kepada kehidupan dasar kita, dan juga yang berkontribusi kepada kesejahteraan kita secra fisik. Karena itu upaya perencanaan lingkungan merupakan kegiatan umum yang memiliki tujuan sebagai antisipasi kebutuhan di masa depan.

Secara historis, manusia, terutama mereka yang hidup dalam masyarakat industri, cenderung hidup dengan menjarah dan merusak sumber daya alam. Perubahan pembangunan saat ini, bagaimanapun, telah bergeser kepada pembangunan berkelanjutan di mana sumber daya alam digunakan dengan cara dan pada tingkat yang memungkinkan terjadinya proses pemulihan dan regenerasi. Kajian-kajian pada ilmu lingkungan telah menyatakan pentingnya keseimbangan dalam membuat perencanaan yang memperhatikan daya dukung alam. Karena itu jika suatu upaya pemanfaatan sumber daya alam tidak didasarkan kepada suatu rencana yang didasarkan kepada prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan yang komprehensif, maka dikhawatirkan upaya pemanfaatan sumber daya alam tersebut tidak akan berkelanjutan.

2. TINJAUAN TERHADAP PRINSIP PENGELOLAAN LINGKUNGAN

Dalam beberapa tahun terakhir para pengambil kebijakan di Kota Tangerang Selatan telah mengungkapkan visi mereka secara keseluruhan dan tujuan dengan menerbitkan pernyataan mengenai dukungan atas kebijakan bagi kelestarian lingkungan. Hal ini disampaikan melalui penunjukkan maksud, mengidentifikasi prioritas dan prinsip-prinsip, serta memberikan tujuan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Informasi-informasi ini telah mencapai publik, namun belum menjamin bahwa pengelolaan lingkungan telah dilakukan melalui cara yang tepat. Oleh karena keseimbangan lingkungan berada diantara pilihan atas dasar untuk memberikan perlindungan kepada lingkungan alam atau mendahulukan aktivitas manusia, maka setiap pengambilan keputusan akan sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan yang digunakan.

Pada sejak awal Tahun 1970-an, karya-karya ilmiah populer banyak menerbitkan varian dari ecology law’s, yang didasarkan kepada tiga prinsip dari Commoner (1971) yaitu :

  1. Any intrusions into nature has numerous effects, many of which are unpredictable (environmental management must cope with the unexpected),
  2. Because everything is connected, humans and nature are inextricably bound together, what one person does affects others (environmental management must consider chains of causation, looking beyond the local and short term),
  3. Care needs to be taken that substances produced by humans do not interfere with any of the Earth’s biogeochemical process (environmental management must monitor natural processes and human activities to ensure no crucial process is upset).

Ketiga prinsip diatas, merupakan prinsip yang dipandang sebagai hukum dalam sistem pengelolaan lingkungan. Karena itu Barrow (1999) dalam Environmental Management; menyatakan bahwa pengelolaan lingkungan merupakan sebuah pendekatan dalam melestarikan lingkungan melalui pemaduan antara ekologi, pembuatan kebijakan, perencanaan dan pembangunan sosial, yang kemudian dirumuskan kedalam tujuan pengelolaan lingkungan yang meliputi :

  • Pencegahan dan penyelesaian masalah-masalah lingkungan,
  • Menetapkan batasan-batasan,
  • Membangun dan memelihara lembaga-lembaga yang secara efektif mendukung penelitian dibidang pemantauan dan manajemen lingkungan,
  • Memberikan peringatan, ancaman dan mengidentifikasi peluang,
  • Mempertahankan dan, jika mungkin memperbaiki; sumber daya yang ada,
  • Jika memungkinkan meningkatkan kualitas kehidupan,
  • Mengidentifikasi kebijakan teknologi dan atau kebijakan baru yang bermanfaat.

Bendungan Situ Gintung pada awalnya dibangun sebagai waduk yang berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan dan untuk perairan ladang pertanian di sekitarnya yang dibangun oleh Belanda antara Tahun 1932-1933 dengan luas awal 31 ha dengan kedalaman rata-rata 10 m dan kapasitas penyimpanannya mencapai 2,1 juta meter kubik.

Seiring dengan berjalannya waktu, bendungan tersebut telah mengalami perubahan fungsi, mengikuti penggunaan kawasan disekitarnya yang telah menjadi kawasan permukiman (dari sebelumnya merupakan kawasan pertanian). Pada saat peralihan fungsi bendungan ini tidak memperhatikan ketiga prinsip utama pengelolaan lingkungan dari Commoner, maka pada saat kapasitas tahanan bendungan Situ Gintung tersebut berlebih, ditambah berbagai faktor lain seperti curah hujan dan kondisi fisik pintu air yang tidak mendukung, mengakibatkan bencana ekologi yang diikuti dengan hilangnya nyawa manusia dan kerugian materiil yang sangat besar.

3. ANALISIS PERENCANAAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Dalam prinsip pengelolaan lingkungan , dikenal adanya tiga komponen pembentuk lingkungan yang saling mempengaruhi, yaitu lingkungan alam, lingkungan binaan dan lingkungan sosial. Lingkungan alam, atau sering disebut hanya sebagai lingkungan, meliputi semua makhluk hidup dan non-makhluk hidup yang terjadi secara alami di bumi atau beberapa wilayah daripadanya . Lingkungan binaan mengacu kepada lingkungan buatan manusia yang dibangun untuk kegiatan manusia, mulai dalam skala dari pribadi hingga bagi komunitinya. Lingkungan sosial, atau juga dikenal sebagai milleu, identik dengan posisi sosial dan peran sosial secara keseluruhan yang mempengaruhi individu-individu dari suatu kelompok.

Ketiga aspek lingkungan tersebut sangat berkaitan erat dalam tiga prinsip ecology law’s, dari Commoner (1971), terutama prinsip Commoner yang kedua, yakni : Because everything is connected, humans and nature are inextricably bound together, what one person does affects others. Dalam prinsip kedua ini, dijelaskan bahwa pada dasarnya lingkungan sosial dan lingkungan alam saling terikat dan mempengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu dalam upaya pengelolaan lingkungan, harus memperhatikan rantai sebab akibat, dan juga melihat kepada kepentingan yang lebih luas dan jauh kedepan.

Hubungannya dengan Situ Gintung adalah, bahwa pada dasarnya Situ Gintung harus dipandang sebagai kekayaan sumber daya alam yang perlu dijaga dan dilestarikan, karena memiliki fungsi-fungsi yang sangat penting, seperti fungsi ekologis, fungsi ekonomis, fungsi sosial dan lain sebagainya.

Sebagaimana yang dapat disimak dari bagan diatas, bahwa sebagai sebuah sumberdaya lingkungan, Situ Gintung bernilai ekonomi, lingkungan dan sosial, karena itu dalam pembangunannya perlu dilaksanakan agar berkelanjutan. Dari gambar diatas, sebuah pelaksanaan pembangunan berkelanjutan perlu memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup sembari ditunjang oleh komponen sosialnya.

Komponen lingkungan hidup dalam hal ini adalah ekosistem alami (SDA) di Situ Gintung, lingkungan sosial (SDM dan sistem sosial) di kawasan Situ Gintung, Kecamatan Ciputat Timur dan Lingkungan Binaan (konstruksi bendungan) itu sendiri. Ketiga komponen ini harus direncanakan dan dilaksanakan pembangunannya secara berkelanjutan, yang ditunjang oleh sistem sosial dalam bentuk strategi pembangunan.

Ketika danau Situ Gintung beralih fungsi menjadi kawasan pariwisata, dan daerah sekitarnya beralih fungsi menjadi kawasan permukimannya tanpa didukung oleh suatu perencanaan berkelanjutan. Maka sebagaimana disampaikan bagian pendahulu, maka perencanaan ini dipastikan akan gagal; sehingga terjadilah bencana ekologi Situ Gintung dalam bentuk :

  1. Rusaknya kelestarian lingkungan akibat kegiatan manusia yang merugikan. Dalam kasus Situ Gintung, yang terjadi adalah peralihan fungsi danau Situ Gintung tanpa diikuti perubahan struktur bendungan,
  2. Berkurangnya fungsi dan pelayanan lingkungan. Dalam kasus Situ Gintung, yang terjadi adalah berkurangnya fungsi lingkungan Situ Gintung walaupun diikuti dengan meningkatnya fungsi ekonomi dan sosial,
  3. Terjadinya bencana fisik lingkungan. Dalam kasus Situ Gintung, yang terjadi adalah jebolnya tanggul Situ Gintung yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia dan kerugian materiil dalam jumlah besar.

Dengan mengacu kepada penyebab kerusakan ekosistem dari tipologi Haeruman (2005), maka penyebab bencana Situ Gintung dapat dibedakan atas penyebab langsung dan pemicu. Penyebab langsung terdiri atas :

  1. pembangunan infrastruktur, dalam hal ini adalah pembangunan infrastruktur yang paling besar pengaruhnya adalah pembangunan permukiman. Alih fungsi lahan melanggar ketentuan kawasan perlindungan setempat untuk kawasan sekitar danau atau waduk, yaitu daratan berkisar antara 50-100 m dari titik pasang air tertinggi. Pembangunan permukiman di sekitar bendungan Situ Gintung juga telah mengakibatkan beban daya tampung Situ Gintung naik. Hal ini disebabkan karena sebagai daerah konservasi, kawasan Situ Gintung seharusnya bebas dari permukiman, dengan demikian kawasan sekitar Situ Gintung juga dapat menjadi daerah resapan. Dengan beralihnya fungsi tersebut menjadi permukiman, maka danau Situ Gintung harus menerima limpahan runoff yang semakin tinggi, walaupun kapasitasnya cenderung tetap (atau bahkan berkurang akibat pengaruh sedimentasi);
  2. perluasan usaha, sebagai ruang terbuka dipusat Kota Tangerang Selatan, kawasan Situ Gintung memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi, karena dekat dengan pusat kegiatan. Oleh karena itu semakin meningkatnya arus kegiatan perkotaan, semakin tinggilah beban kawasan Situ Gintung, yang ditandai dengan semakin meningkatnya intensitas kawasan permukiman di wilayah hilir dan hulu Situ Gintung;
  3. eksploitasi sumberdaya alam. Sebagai wilayah konservasi, kawasan Situ Gintung merupakan kawasan terbuka hijau sebagai daerah resapan. Oleh karena itu eksploitasi justri berlangsung terhadap ruang sekitar, dimana terjadi peralihan fungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya. Sebagai akibatnya terjadi erosi di kaki tanggul bagian hilir (downstream), baik oleh rembesan air yang keluar dari badan tanggul maupun oleh limpahan air dalam kondisi genangan air melebihi level maksimumnya (overtopping).

Dapat disimak dalam gambar hasil interpretasi Citra Satelit diatas secara 3 dimensi bahwa Danau Situ Gintung merupakan wilayah cekungan, sehingga aliran runoff baik dari buangan drainase maupun hujan akan mengalir kedalam Situ Gintung.
Sedangkan faktor pemicu terdiri atas :

  1. faktor demografi. Ledakan penduduk menjadi pemicu alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan permukiman, terutama di bagian hilir (tanggul) situ.
  2. faktor ekonomi. Komersialisasi merupakan pemicu dari faktor ekonomi, yang disebabkan oleh peralihan fungsi lahan dari kawasan pertanian yang kurang ekonomis menjadi kawasan pendidikan, perdagangan dan permukiman yang bernilai ekonomi tinggi.
  3. faktor teknologi. Faktor teknologi yang menjadi pemicu adalah ketidaklayakan prasarana akibat kerusakan badan tanggul karena sebagian lereng hilir digali (di sebelah kiri spillway) dan selanjutnya dibangun rumah. Galian tersebut bahkan membentuk lereng tegak (vertikal) dengan ketinggian bervariasi mulai 1 m – 2 m. Selain itu juga terjadi keruntuhan tanggul (retrogressive failure). Yang diawali oleh adanya keruntuhan (failure) di kaki tanggul bagian hilir (downstream), yang terus berkembang ke atas sepanjang spillway dan menyebabkan adanya longsoran yang lebih besar lagi hingga pada akhirnya keseluruhan badan tanggul di sekitar konstruksi spillway tersebut runtuh .
  4. faktor kebijaksanaan. Sebagai wilayah otonomi baru, Kota Tangerang Selatan masih dalam masa transisi, sehingga kepentingan dan tanggung jawab pengelolaan Situ Gintung masih terombang-ambing antara Pusat dan Daerah (dalam hal ini adalah Provinsi Banten, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan). Sangat mungkin terlambatnya pengawasan dan perbaikan tanggul Situ Gintung akibat tidak adanya kejelasan anggaran pengelolaan tanggul Situ Gintung antara Pusat dan Daerah.
  5. faktor budaya. Sebagai sebuah pemicu, faktor budaya memiliki peranan yang sangat besar dalam timbulnya kehilangan jiwa saat bencana terjadi. Jika saja, ada kesadaran dari warga sekitar untuk tidak menghuni kawasan lindung di daerah hilir sebuah Situ yang tidak memiliki mekanisme pengelolaan yang jelas, tentunya korban jiwa tidak akan terjadi. Karena itu sangatlah perlu sebuah kesadaran dari seluruh masyakat untuk mengikuti aturan peruntukan lahan, terutama pada kawasan kritis.
  6. faktor lain-lain. Faktor lain-lain yang menjadi pemicu cukup banyak, yakni politik, bencana alam, dan lain sebagainya.

Faktor-faktor tersebut diatas telah mengakibatkan terjadinya bencana ekologi berupa runtuhnya tanggul Situ Gintung pada tanggal 27 Maret 2009 sehingga mengakibatkan sedikitnya 99 orang hilang, 300 rumah rusak diterjang air dan kerusakan pada daerah hilir .

4. POLA PENDEKATAN DALAM UPAYA PENGELOLAAN YANG MEMINIMALKAN DAMPAK NEGATIF LINGKUNGAN

Kembali kepada prinsip pertama pengelolaan lingkungan dari Commoner, dimana disebutkan bahwa “Any intrusions into nature has numerous effects, many of which are unpredictable”. Dalam hal ini Commoner mengingatkan bahwa setiap upaya pemanfaatan sumberdaya alam dipastikan akan mengakibatkan sejumlah pengaruh baik langsung maupun tidak, yang tentunya tidak akan dapat diprediksi sepenuhnya atau tidak sama sekali.

Peringatan dari prinsip pertama ini sangatlah jelas bahwa setiap upaya pengelolaan lingkungan harus mempertimbangkan dengan hal-hal yang tidak dapat diperkirakan. Dalam hal ini, pengelolaan danau Situ Gintung sebagai kawasan konservasi tidak hanya harus direncanakan dengan matang, namun perubahan fungsinya sebagai kawasan konservasi yang dilindungi harus dipertahankan dengan aturan yang ketat.

Moersidik dalam Prinsip pengelolaan lingkungan (2009) memaparkan pola-pola pendekatan pengelolaan lingkungan yang berupaya meminimalkan dampak negatif kepada lingkungan (alam, sosial dan binaan) secara keseluruhan; yang dapat diterapkan dalam upaya pengelolaan Situ Gintung, yaitu :

  1. Bahwasanya perubahan iklim telah membawa konsekuensi pada sistem eksploitasi sumberdaya,
  2. Pola pendekatan pengelolaan lingkungan harus memanfaatkan jasa ekologi dari sumberdaya (natural capital) yang dimiliki untuk kepentingan masyarakat,
  3. Kebijakan mitigasi perubahan iklim harus diterapkan melalui pola perubahan kehidupan manusia dalam sistem sosial,
  4. Orientasi perubahan pengelolaan lingkungan harus mengarah kepada pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan mindset produktivitas atas pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki dan menaikkan daya lenting (resilience).

Dengan penerapan pola pendekatan diatas, maka diharapkan upaya pengelolaan Situ Gintung paska bencana tidak saja akan berawasan lingkungan, namun juga dapat berkelanjutan, sebagaimana prinsip pengelolaan lingkungan ketiga dari Commoner (1971) bahwa “Care needs to be taken that substances produced by humans do not interfere with any of the Earth’s biogeochemical process”. Hubungannya adalah bahwa upaya pengelolaan Situ Gintung, termasuk pembangunan-pembangunan yang dilakukan, harus dipastikan tidak mengganggu keseimbangan lingkungan atau “to ensure no crucial process is upset”.

Pada akhirnya, penentuan keberlangsungan lingkungan (alam, sosial dan binaan) haruslah dihasilkan dari keyakinan bahwa semua kegiatan manusia dapat dijelaskan oleh undang-undang lingkungan hidup. Dalam hal ini determinasi pengelolaan lingkungan harus dilihat secara menyeluruh dan tanpa batasan waktu dan ruang yang sempit.

DAFTAR PUSTAKA
Barrow, C. J. Environmental management: principles and practice. Routledge Environmental Management Series. 1999
Conglose, John B, Comprehensive Planning, Community Economic Development Agent, Ohio State University Extension, Ohio State University Fact Sheet, Columbus, Ohio. 2000
Kementerian Pekerjaan Umum, Arahan Penataan Kembali Situ Gintung. Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum, 2009
Kompas, 2009. Luapan Situ Gintung Lenyapkan 300 Rumah
Masyarakat Peduli Pendidikan Bencana. Diskusi Terbuka Bencana Situ Gintung. 2009
Rovicky. Banjir Situ Gintung : Keringkan saja danau ini. Retrieved from : ttp://rovicky.wordpress.com/2009/03/27/banjir-situ-gintung-keringkan-saja-danau-ini/. 2009
Russell, Michael. Management Principles of The Environment. EzineArticles.com. 2006
Selman, Paul H. Environmental planning: the conservation and development of biophysical resources. The Conservation and Development of Biophysical Resources Series. 2000
Setyo S. Moersidik. Prinsip Pengelolaan Lingkungan Ekologi-Ekosistim-Sosiosistim. Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana Universitas Indonesia. 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s