Minapolitan Sebagai Strategi dalam Mendorong Kemandirian Pembangunan Di Daerah

Minapolitan pada dasarnya merupakan sebuah konsep pengembangan daerah yang dititikberatkan kepada pengembangan komoditas-komoditas unggulan di sektor perikanan sebagai basis perekonomiannya. Dengan kecenderungan kegagalan model pembangunan kutub tumbuh secara umum, model-model pengembangan kemandirian di daerah terus menerus digali. Essai ini merupakan masukan dalam mengembangkan konsep Minapolitan sebagai pendorong kemandirian pembangunan di daerah.

1. PENDAHULUAN

Ketimpangan pembangunan antara perkotaan sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi dengan perdesaan sebagai pusat kegiatan primer menyebabkan kesenjangan diberbagai struktur sistem. Sebagai akibatnya, proses interaksi ke dua wilayah ini secara fungsional berada dalam posisi yang saling memperlemah. Wilayah perdesaan (dalam hal ini adalah desa-desa pesisir) dengan kegiatan utama sektor primer, khususnya perikanan, mengalami produktivitas yang selalu menurun akibat berbagai permasalahan, sedangkan di sisi lain wilayah perkotaan sebagai tujuan pasar dan pusat pertumbuhan menjadi menerima beban berlebih sehingga memunculkan ketidaknyamanan akibat permasalahan permasalahan sosial (konflik, kriminal, dan penyakit) dan lingkungan (pencemaran dan buruknya sanitasi lingkungan permukiman). Hubungan yang saling memperlemah ini secara agregat wilayah keseluruhan akan berdampak pada penurunan produktivitas wilayah.

Berkembangnya kota sebagai pusat pertumbuhan temyata tidak memberikan trickle down effect, tetapi justru menimbulkan efek pengurasan sumberdaya dari wilayah sekitarnya (backwash effect)[1]. Urban bias tersebut terjadi akibat kecenderungan pembangunan yang mendahulukan pertumbuhan ekonomi melalui kutub-kutub pertumbuhan (growth poles) yang semula diarahkan untuk menimbulkan terjadinya tricle down effect dari kutub pusat pertumbuhan ke wilayah hinterland-nya, namun ternyata net-effect-nya malah menimbulkan pengurasan sumberdaya secara besar-besaran (masive backwash effect), dengan perkataan lain, secara ekonomi telah terjadi transfer neto sumberdaya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan secara besar besaran.

Undang-undang No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil serta Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 16 Tahun 2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil merupakan payung hukum yang mendukung upaya pembangunan kemandirian daerah terutama bagi daerah-daerah yang memang memiliki potensi tinggi untuk mengelola sumberdaya alam, manusia dan binaannya secara telah dicanangkan sejak lama.

Minapolitan merupakan konsep pengembangan ekonomi suatu daerah dengan menggunakan sektor perikanan sebagai basis perekonomian, dengan komoditas unggulan daerah masing-masing. Dengan basis pengembangan sektor unggulan sebagai kutub tumbuh kemandirian daerah, maka secara konseptual Minapolitan akan sangat sesuai untuk diterapkan sebagai strategi pengembangan daerah pesisir di Indonesia.

2. KEGAGALAN MODEL PEMBANGUNAN KUTUB TUMBUH

Terdapat beberapa alasan mengapa kawasan pesisir patut didorong kemandiriannya, yakni, : Pertama, tergantungnya perdesaan kepada perkotaan seringkali mendorong para stakeholders di perkotaan untuk mengeksploitasi sumberdaya yang ada di perdesaan. Masyarakat desa sendiri tidak berdaya karena secara politik dan ekonomi para pelaku eksploitasi sumberdaya tersebut memiliki posisi tawar yang jauh leblh kuat. Kedua, kawasan perdesaan sendiri umumnya dihuni oleh masyarakat yang kapasitas SDM dan kelembagaannyanya kurang berkembang. Kondisi ini mengakibatkan ide-ide dan pemilkiran dari para stakeholder perkotaan sulit untuk didesiminasikan, sehingga sebagian besar aktivitas pada akhimya akan lebih bersifat enclave dengan mendatangkan banyak SDM dari perkotaan yang dianggap lebih mempunyai ketrampilan dan kemampuan.

Rondinelli (1985)[2] mengidentifilkasikan setidaknya tiga konsep pengembangan kawasan, yakni (1) Konsep kutub pertumbuhan (growth pole), (2) Integrasi (keterpaduan) fungsional spasial, dan (3) Pendekatan decentralized territorial. Konsep growth pole sangat menekankan investasi masih pada industri-industri padat modal di pusat-pusat urban utama. Dengan berkembangnya kutub pertumbuhan ini, pemerintahan di negara-negara yang sedang berkembang berharap dapat menstimulasi dan menciptakan penyebaran pertumbuhan (spread effect) sehingga berdampak pada pembangunan ekonomi wilayah yang lebih luas. Dengan mengedepankan pengembangan sektor-sektor unggulan dlharapkan tercapai tingkat keberhasilan imbal balik investasi (return of investment) yang tinggi, terdorongnya pertumbuhan ekonomi, dan kerja penerapan administrasi dan infrastruktur yang lebih efisien. Dengan demikian kutub pertumbuhan tidak lain akan berperan sebagai mesin pembangunan (engine of development).

Namun dalam kenyataannya, secara umum, hasil pengalaman di negara-negara yang sedang berkembang, kebijakan growth pole pada umumnya gagal menjadi pendorong utama (prime mover) pertumbuhan ekonomi wilayahnya. Proses penetesan (trickle effect) dan penyebaran (spread) yang ditimbulkan umumnya tidak cukup kuat untuk menggerakan perekonomian wilayah. Bahkan seningkali kutub-kutub pertumbuhan tersebut hanya berkembang ibarat enclave dari sektor ekonomi modem yang telah “menguras”, menyerap dan mengalirkan bahan mentah, modal, tenaga kerja dan bakat bakat entrepreneur dari perdesaan di sekelilingnya.

Hansen (1982)[3] mengungkapkan, bahwa proses penetesan dari modenisasi gagal menyentuh kelompok masyarakat miskin, terutama yang di perdesaan. Pandangan pandangan optimis yang memandang pertumbuhan ekonomi pada akhimya akan meningkatkan pendapatan per kapita secara regional, pada umumnya tidak didukung fakta-fakta empirik. Dengan meluasnya masalah sejenis di sebaglan besar negara negara berkembang, para pakar pembangunan kembali mencari solusi bagi pembangunan daerah perdesaan. Pembangunan yang berimbang secara spasial menjadi penting karena dalam skala makro hal itu menjadi prasyarat bagi tumbuhnya perekonomian nasional yang lebih efisien, berkeadilan dan berkelanjutan.

Dalam hal ini pendekatan baru yang ditawarkan haruslah berupaya agar proses penciptaan nilai tambah di tingkat perdesaan dapat terjadi. Yang artinya, kawasan perdesaan harus didorong menjadi kawasan yang tidak hanya menghasilkan bahan primer, melainkan juga mampu menghasilkan bahan bahan olahan atau industri hasil perikanan.

3. MINAPOLITAN SEBAGAI STRATEGI PENGEMBANGAN KEMANDIRIAN DI DAERAH

Salah satu bentuk pendekatan pengembangan perdesaan pesisir yang dapat diwujudkan adalah berupa pengembangan kemandirian pembangunan perdesaan pesisir yang didasarkan pada potensi wilayah desa-desa pesisir itu sendirl, dimana keterkaitan dengan perekonomian kota harus bisa diminimalkan. Berkaitan dengan bentuk inilah maka pendekatan minapolitan disarankan sebagai strategi pembangunan yang terkonsentrasi di wilayah perdesaan dengan jumlah penduduk antara 50. 000 sampal 150. 000 orang.

Minapolitan akan menjadi relevan dengan wilayah pengembangan perdesaan karena pada umumnya sektor perikanan dan pemanfaatan sumberdaya laut memang merupakan mata pencaharian utama dari sebagian besar masyarakat pesisir. Otoritas perencanaan dan pengambilan keputusan akan didesentralisasikan di desa-desa sehingga masyarakat yang tinggal di perdesaan pesisir akan mempunyal tanggung jawab penuh terhadap pekembangan dan pembangunan daerahnya sendiri.

Dalam konteks pengembangan model minapolitan terdapat tiga isu utama yang perlu mendapat perhatian: (1) akses terhadap sumberdaya, (2) kewenangan administratif dari tingkat pusat kepada pemerintah daerah, dan (3) perubahan paradigma atau kebijakan pembangunan daerah untuk lebih mendukung diversifikasi produk perikanan dan kelautan.

Tingkat pengembangan minapolitan cukup dikembangkan dalam skala Kabupaten, karena dengan luasan atau skala kabupaten akan memungkinkan hal-hal sebagai berikut yakni : (1) Akses lebih mudah bagi rumah tangga atau masyarakat perdesaan untuk menjangkau kota; (2) Cukup luas untuk meningkatkan atau mengembangkan wilayah pertumbuhan ekonomi (scope of economic growth) dan cukup luas dalam upaya pengembangan diversifikasi produk untuk mengatasi keterbatasan keterbatasan pengembangan desa sebagai unit ekonomi; dan (3) Alih transfer pengetahuan dan teknologi (knowledge spillovers) akan mudah diinkorporasikan dalam proses perencanaan jika proses itu dekat dengan rumah tangga dan produsen perdesaan.

Dari berbagai altematif model pembangunan, konsep minapolitan juga dapat dipandang sebagai konsep yang menjanjikan teratasinya permasalah ketimpangan perdesaan dan perkotaan sebagaimana disampaikan di pendahuluan sebelumnya, hal ini karena minapolitan memiliki karaktersitik :

  • Mendorong desentralisasi dan pembangunan infrastruktur setara kota di wilayah perdesaan, sehingga mendorong penciptaan urbanisasi (way of life) dalam arti positif;
  • Menanggulangi dampak negatif pembangunan seperti migrasi desa kota yang tak terkendali, polusi, kemacetan Ialu lintas, pengkumuhan kota, kehancuran masif sumberdaya alam, pemiskinan desa dan lain sebagainya.

Dengan demikian pendekatan Minapolitan ini diharapkan dapat mendorong penduduk perdesaan untuk tetap tinggal di perdesaan melalui investasi di wilayah perdesaan. Minapolitan juga diharapkan akan mampu mengantarkan tercapainya tujuan akhir dari upaya Pemerintah Pusat dalam menciptakan pemerintahan di daerah yang mandiri dan otonom.


[1] Rustiadi E, and Hadi S. Pengembangan Agropolitan Sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan Dan Pembangunan Berimbang. 2004

[2] Rondinelli, A.D. Applied Methods of Regional Analysis   The Spatial Dimensions of Development Policy.1985

[3] Hansen, N. The Role of Small and intermediate Sized Cities in National Development Processes and Strategies. 1982

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s