Konstelasi Pengembangan Pulau Sebatik Sebagai Pulau Terluar Indonesia Dengan Konsep Multiple Nuclei

Dalam kasus Sipadan-Ligitan, kekalahan Indonesia dari Malaysia merupakan buah keteledora Pemerintah Indonesia dalam mengawal pembangunan wilayah berbasis kelautan di kawasan perbatasan. Malaysia memenangkan sengketa Sipadan dan Ligitan dengan melarang panen penyu di kedua pulau. Sebaliknya, Indonesia yang mengklaim sebagai pemilik kedua pulau, tidak melakukan sesuatu apapun atas konmitmen sebagai pemilik kedaulatan di kedua pulau tersebut. Hilangnya tidak hanya satu, tapi dua pulau terluar tersebut, akan secara langsung merusak konstelasi sebagian besar batas wilayah Indonesia dengan negara-negara tetangga. Dengan demikian kata kunci dalam sengketa batas negara saat ini adalah siapa berbuat apa di dalam 92 sengketa pulau terluar.

Pulau Sebatik sebagai salah satu dari pulau perbatasan di kawasan perbatasan negara antara Indonesia dengan Malaysia. Posisi Pulau Sebatik yang berbatasan dengan wilayah Malaysia memungkinkan menjadi Boarder Trade Area (BTA) antara Indonesia – Malaysia, bahkan Pulau Sebatik terbagi menjadi 2 (dua) yaitu antara wilayah Indonesia di sebelah selatan dan wilayah Malaysia di sebelah utara.

Mengingat pentingnya fungsi Pulau Sebatik sebagai kawasan perbatasan tersebut, maka tingkatan hirarki Pulau Sebatik harus ditentukan berdasarkan besaran pulau tersebut terhadap wilayah belakangnya (hinterland), sehingga peranan Pulau Sebatik akan ditentukan oleh kelengkapan dan kualitas sarana yang tersedia sebagai pencerminan hirarki fungsional dari Pulau Sebatik dalam memberikan pelayanan. Penyediaan sarana pengembangan ini menggunakan asumsi bahwa setiap pusat pelayanan yang lebih tinggi merangkap dan melayanai juga pusat lainnya yang lebih rendah.

Pola pengembangan pusat-pusat pelayanan yang tersebar merata ke seluruh Pulau Sebatik akan membentuk pola multiple nucley. Dengan demikian diharapkan orientasi kegiatan penduduk tidak terpusat (terkonsentrasi) di pusat pulau (Kecamatan Tanjung Karang) saja, akan tetapi menyebar ke pusat-pusat pelayanan yang dikembangkan di masing-masing lingkungan atau pada setiap pulau. Pengembangan pusat-pusat kegiatan yang dengan konsep multiple nucley akan dihubungkan oleh sistem jaringan transportasi laut, sehingga membentuk suatu kesatuan yang saling terintegrasi dan mudah dijangkau dari seluruh bagian wilayah pulau.

Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka rencana pengembangan struktur pusat-pusat pelayanan di Pulau Sebatik dibuat secara hirarki dan ditempatkan secara berjenjang dan terpadu sesuai skala pelayanannya, yang masing-masing mempunyai keterkaitan fungsional. Dengan demikian hirarki pusat-pusat pelayanan yang perlu dikembangkan di Pulau Sebatik dapat dibagi atas:

  1. Pusat Pengembangan Primer atau Pusat Pelayanan Utama, dengan skala pelayanan Kabupaten dan regional yang akan ditempatkan pada wilayah yang staregis dan mempunyai aksesibilitas baik dan perkembangannya disesuaikan dengan daya dukung sektor perikanan dan kelautan, wilayahnya adalah kecamatan Sebatik Timur dengan pusat pengembangannya adalah Sungai Sei Nyamuk, dan pengembangan di sektor: pemerintahan, perikanan tangkap, industri perikanan, pusat pemasaran produk-produk perikanan, sektor jasa kelautan (pelabuhan penumpang, pelabuhan pendaratan ikan), dan pariwisata, serta sektor pertahanan
  2. Pusat Pengembangan sekunder atau Sub Pusat Pelayanan Utama, merupakan pusat pelayanan atau pengembangan sekunder yang dialokasikan tersebar merata ke setiap desa dengan skala pelayanan sekunder, yang pengembangannya disesuaikan dengan ketersediaan sarana dan prasarana perikanan dan daya dukung sumberdaya pesisir dan laut. Wilayahnya adalah Sungai Panjang, Tanjung Aru, Tanjung Karang, dan Bambangan, dengan pengembangan di sektor: perikanan tangkap, industri perikanan, pemasaran produk perikanan, jasa kelautan (pelabuhan penumpang) dan pariwisata.
  3. Pusat Pengembangan Lokal atau Pusat Pelayanan Lingkungan Pemukiman, yaitu merupakan suatu pusat orientasi pelayanan kebutuhan penduduk yang berada di setiap desa di Pulau Sebatik mempunyai 18 Kampung, yang wilayah pengembangannya meliputi kampung: Sungai Lembo, Mospul, Sinjai, Kampung Baru, Tanjung Kecil, Balansiku, Setabu, Lapio, Mantikas, Binalawan, Londes, dengan pengembangannya disektor: perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri perikanan, jasa kelautan (tambatan perahu), wisata bahari.

Dengan pembagian pengembangan struktur ruang Pulau Sebatik berdasarkan multiple nuclei tersebut, diharapkan pembangunan Pulau Sebatik sebagai pulau terluar akan dapat :

  1. Memiliki kesesuaian dengan rencana struktur tata ruang yang lebih makro,
  2. Memacu pertumbuhan dan mewujudkan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Pulau Sebatik melalui penyebaran pusat dan sub pusat pelayanan atau pengembangan pulau secara berjenjang dengan pola multiple nucley, sehingga seluruh bagian pulau dapat terlayani.
  3. Mendayagunakan sarana pelayanan atau pengembangan pulau yang penyebarannya dilakukan secara berjenjang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pelayanan.
  4. Menciptakan interaksi yang kuat antara pusat dan sub pusat pengembangan atau pelayanan pulau melalui pengaturan sistem jaringan transportasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s