Adaptasi Kota Pesisir terhadap Perubahan Iklim

1. PENDAHULUAN

Sejarah bercerita, buku-buku mencatat, lagu-lagu dinyanyikan, akan kisah-kisah bagaimana kota-kota yang agung mengalami kehancurannya. Hancur, rusak, terbakar, akibat dihujani bom, dilanda banjir, kelaparan, radiasi hingga penyakit. Namun, pada hampir setiap kisah, menceritakan bagaimana kota-kota tersebut bangkit bagai phoenix yang majestik. Namun perubahan iklim, adalah tantangan yang benar-benar berbeda. Tidak lagi hanya meresahkan tidur para pecinta lingkungan, namun dengan menjadi isu yang tidak kunjung disepakati tindak lanjutnya, perubahan iklim dalam jangka panjang mampu membawa kota-kota kita yang agung menuju akhir untuk selamanya.

Fenomena perubahan iklim merupakan sebuah tantangan dalam upaya perencanaan kota pesisir yang berkelanjutan. Hal ini dikarenakan perubahan iklim merupakan sebuah proses yang berlangsung terus menerus menuju suatu kondisi keseimbangan baru. Sebagai sebuah proses, adaptasi sebuah kota pesisir kepada perubahan iklim akan lebih cenderung memerlukan upaya-upaya penyesuaian diri kepada kondisi baru dibandingkan upaya-upaya pemulihan sebagai aikbat proses yang terus berlangsung tersebut.

Dengan demikian, dalam upaya perencanaan suatu kota pesisir yang berkelanjutan maka akan lebih baik jika upaya tersebut diarahkan kepada rencana untuk beradaptasi terhadap proses dibandingkan terus menerus berupaya memulihkan akibat proses perubahan iklim yang terus berlangsung.

2. TUJUAN

P.J. Bowler (2003) , menggambarkan bahwa prinsip dari sebuah proses adaptasi adalah bagaimana suatu populasi berevolusi untuk menyesuaikan diri dengan habitatnya. Dalam hal ini Kota Pesisir merupakan sebuah kota yang akan secara langsung dipengaruhi oleh perubahan iklim sepanjang tahun. Dan sebagai sebuah proses, tekanan yang diakibatkan oleh proses perubahan iklim akan terus menerus meningkat.

Perubahan iklim akan memberikan tekanan kepada cadangan sumber air tawar, tekanan bagi keberlangsungan ekosistem pesisir, tekanan terhadap produksi dan industri di kawasan pesisir, tekanan bagi permukiman dan perkonomian diwilayah pesisir dan dataran rendah, hingga ancaman kepada kualitas kesehatan manusia. Makalah ini bertujuan untuk mengulas bagaimana prinsip suatu Kota Pesisir untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim.

3. METODOLOGI

Leitman (1999) menjelaskan bahwa kata kunci dalam membangun suatu kota yang berkelanjutan bukanlah apakah kota tersebut dapat dibangun secara berkelanjutan atau tidak, namun bagaimana kota tersebut dapat dibangun secara berkelanjutan?.

Urbanisasi akan terus berjalan, dan sebuah Kota akan terus menjadi motor penggerak perekonomian regional dan nasional. Namun ini tidak berarti perkembangan suatu kota akan dibiarkan tanpa intervensi. Intervensi diperlukan untuk mengurangi laju dampak lingkungan dari kawasan perkotaan, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, memperbaiki produktivitas ekonomi hingga dalam hal ini adalah beradaptasi kepada perubahan iklim.

Schmidt-Thome (2006) dalam Integration of natural hazard, risks and climate change, menyebutkan bahwa terdapat empat dasar dalam upaya adaptasi suatu kota terhadap perubahan iklim, yaitu :
1. Menciptakan suatu basis pengetahuan yang kuat sebagai dasar pengambilan keputusan,
2. Membentuk suatu modelling perubahan iklim yang dituangkan kedalam bentuk informasi geografis-spasial,
3. Melakukan kajian kerentanan terhadap seluruh aspek kehidupan pada kota pesisir tersebut secara lokal dan regional,
4. Membangun suatu platform integrasi hasil kajian dengan kebijakan, dimana rangkaian informasi modelling dan hasil kajian disarikan sebagai kebijakan-kebijakan dalam perencanaan kota,

4. KELUARAN YANG DIHARAPKAN

Kebijakan pembangunan nasional di Indonesia saat ini mengalami kemunduran besar dengan tidak dipertimbangkannya faktor perubahan iklim didalam perencanaan kawasan perkotaannya. Hingga dampaknya, wilayah pesisir, masih disesaki oleh tempat tinggal, ruang produksi dan prasarana sarana umum. Padahal kebijakan menggariskan bahwa kawasan pesisir merupakan daerah rawan bencana yang harus bebas bangunan karena sangat beresiko akan bencana alam.

Empat dasar upaya adaptasi kepada perubahan iklim akan dapat menjadi benang merah yang menghubungkan antara kajian kerentanan dengan kebijakan yang dihasilkan sehingga resiko rawan bencana pada kawasan pesisir akan dipahami dengan baik.
Dengan demikian kebijakan perencanaan kawasan perkotaan akan juga didasarkan kepada proyeksi tantangan dimasa depan, dan bukan hanya daftar indikasi program. Dengan menyertakan perubahan iklim sebagai sebuah konstanta dalam perencanaan kawasan perkotaan maka kota tersebut akan selalu mampu adaptasi terhadap perubahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s