Hidup di antara Sampah

1. PENDAHULUAN
Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni . Kesehatan masyarakat telah dipandang sebagai sebuah solusi dalam mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan secara kolektif. Kesehatan masyarakat menggalang upaya yang terorganisir dan memberikan informasi kepada masyarakat untuk mempromosikan hidup yang berkualitas, hidup yang sehat.
Pada Tahun 2007 yang lalu, untuk pertama kalinya persentase manusia yang tinggal di kawasan perkotaan menyamai jumlah manusia yang tinggal di kawasan pedesaan. Menjelang akhir Tahun 2010, dapat dipastikan bahwa keseimbangan jumlah manusia yang tinggal dikawasan perkotaan dengan yang di pedesaan akan semakin timpang. Di Kota Jakarta sendiri, pada Tahun 2010 ini sudah terdapat 8.5 juta penduduk yang tinggal dimalam harinya.
Tingginya tingkat kepadatan berbanding dengan luas wilayah tersebut, mengharuskan upaya-upaya promosi hidup sehat sebagai tujuan dari kesehatan masyarakat untuk diupayakan secara berkesinambungan. Namun ketika prinsip-prinsip kesehatan masyarakat berbenturan dengan mata pencaharian, maka kesehatan masyarakat yang berkualitas akan sulit tercapai .
Kelompok pemulung sampah di Kampung Jurangmangu, hidup dari mengumpulkan barang-barang yang masih dapat dimanfaatkan atau dijual kembali. Pekerjaan mereka mengharuskan mereka untuk tinggal tepat di lokasi pembuangan sampah yang tentunya bertentangan dengan prinsip-prinsip kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, upaya untuk mencapai solusi dalam rangka peningkatan kualitas kesehatan masyarakat bagi masyarakat Kampung Jurangmangu akan sangat dibutuhkan.


2. TINJAUAN LITERATUR
Menurut Winslow dalam The Untilled Fields of Public Health, Kesehatan Masyarakat merupakan ilmu dalam mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan dan bukan individu, oleh karena itu analisis kesehatan dilakukan pada tingkatan kelompok masyarakat dan bukan pada tingkatan individu. Populasi dari masyarakat yang dimaksud dapat berupa segelintir orang ataupun sekaligus melibatkan masyarakat dari keseluruhan suatu negara.
Dalam aspek kesehatan masyarakat, intervensi difokuskan kepada upaya untuk mencegah dan bukan kepada mengobati penyakit tersebut. Karena itu promosi perilaku hidup yang sehat merupakan hal yang utama dalam aspek kesehatan masyarakat. Namun bisa saja pengobatan penyakit secara individual dipandang sebagai langkah pencegahan, selama dilakukan untuk mencegah penyakit tersebut untuk menyebar kepada orang lain, seperti untuk mencegah wabah penyakit menular.
Kesehatan masyarakat pada dasarnya meliputi kepada 11 (sebelas) aspek yang berbeda sekaligus, yaitu :
1) Biostatistics
2) Epidemiology
3) Health Services Administration/Management
4) Behavioral Science/Health Education
5) Environmental Health
6) Maternal and Child Health
7) Nutrition
8 ) International/Global Health
9) Public Health Laboratory
10) Practice Public Health
11) Policy Public Health Practice
Dari kesebelas aspek tersebut, aspek yang akan dibahas pada makalah ini adalah kesehatan lingkungan permukiman, yang meliputi diantaranya : air quality, food protection, solid waste management, water quality, housing quality, dan vector control.


3. KASUS MASYARAKAT PEMULUNG KAMPUNG JURANGMANGU

Penelitian ini dilakukan terhadap masyarakat yang tinggal di kawasan yang berdasarkan prinsip kesehatan dapat dikatakan tidak memenuhi aspek-aspek kelayakan huni. Responden merupakan masyarakat pemulung sampah (selanjutnya akan disebut penghuni Kampung Jurangmangu), Kecamatan Jurangmangu, Kotamadya Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta; yang terdiri dari 20 keluarga, berjumlah total 73 orang.
Masyarakat Kampung Jurangmangu sudah tinggal dilokasi tempat penampungan sampah sementara di Kecamatan Jurangmangu ini selama lima belas tahun. Diawali dengan pindahnya keluarga Ibu Sugilah dan suaminya ke lokasi TPS ini. Kemudian mereka sedikit demi sedikit membangun hunian permanen di tengah kumpulan sampah tersebut. Dari penghasilan penjualan barang-barang yang masih dapat dijual, mereka mampu menghidupi dirinya dan keluarganya hingga lima belas tahun ini. Seiring waktu, jumlah pemulung yang tinggal menjadi semakin banyak, hal ini karena mereka juga memiliki hubungan kekerabatan (karena asal kampung yang sama) dan sifat yang memang sangat toleran antar sesama pemulung.
Di TPS Jurangmangu ini, sekarang telah tercipta kawasan permukiman yang terdiri hingga 20 kepala keluarga. Secara administratif mereka tidak diakui oleh kepala daerah setempat, karena mereka tinggal diatas tanah yang tidak jelas status lahannya dan dianggap lebih memberikan dampak buruk kepada image kawasan sekitarnya. Sifatnya yang ilegal tersebut, membuat mereka tidak ada yang memiliki kartu tanda penduduk setempat, sehingga dalam memperoleh akses kepada kesehatan mereka sangat kesulitan karena puskesmas Jurangmangu hanya membatasi jaminan kesehatan kepada masyarakat miskin setempat.


4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan akan dibedakan kedalam dua bagian yang berbeda yaitu pemaparan hasil olah data kuisioner dan pemaparan hasil pembahasan secara umum dengan mengaitkan permasalahan dengan kesehatan masyarakat perkotaan.
4.1. Hasil Kunjungan Lapangan
Berdasarkan hasil wawancara dan pengisian kuisioner, diperoleh kecenderungan sebagai berikut :
1) Kesadaran terhadap kesehatan lingkungan,
Berdasarkan hasil wawancara kepada responden dan pengamatan secara visual, didapatkan tabulasi faktor kesadaran terhadap kesehatan lingkungan sebagai berikut.
Hasil tabulasi kuisioner untuk faktor kesadaran terhadap kesehatan lingkungan menggambarkan bahwa pada dasarnya masyarakat memiliki pemahaman terhadap bentuk kesehatan masyarakat dan pengaruhnya bagi kesehatan di tingkat induvidu dan masyarakat. Mereka menyadari bahwa faktor lingkungan sekitar sangat mempengaruhi kesehatan mereka secara pribadi dan kolektif. Sebaran kuisioner berdasarkan tingkat umur juga tidak mempengaruhi, dengan terdapatnya dominasi dengan jawaban paham.
2) Aspek Kesehatan Lingkungan
Berdasarkan hasil wawancara kepada responden dan pengamatan secara visual, didapatkan tabulasi faktor Aspek Kesehatan Lingkungan sebagai berikut.
Hasil tabulasi untuk faktor Aspek Kesehatan Lingkungan diperoleh berdasarkan hasil pengisian kuisioner lanjutan kepada 10 kepala keluarga yang dipilih berdasarkan lamanya tinggal di permukiman tersebut. Kesepuluh kepala keluarga tersebut mengemukakan pendapat yang pada umumnya seragam bahwa tidak ada yang menyebut bahwa ditinjau dari segi kesehatan lingkungan, kualitas permukiman mereka dianggap baik. Sebaliknya, terdapat dominasi sebesar 65% yang menjawab bahwa kualitas kondisi permukiman mereka kurang baik. Lebih jelasnya dapat disimak gambar dibawah ini.
3) Analisis Persepsi Masyarakat terhadap Aspek Kesehatan Lingkungan
Berdasarkan hasil wawancara diperoleh pemahaman terhadap persepsi masing-masing kepala keluarga terhadap kualitas kondisi permukiman mereka, yang akan dibahas sebagai berikut.
a. Air Quality
Tempat pembuangan sampah memiliki kualitas udara yang buruk. Tidak hanya bau yang menyengat, namun hasil oksidasi dari berbagai jenis bahan buangan menyebabkan terkosenterasinya sejumlah gas yang berbahaya jika terhirup dalam jumlah besar. Di kampung Jurangmangu, masyarakat pada umumnya sudah terbiasa dengan bau yang menyengat, pun dengan bahaya akan jenis bau yang berbahaya bagi kesehatan, o leh karena itu pada umumnya kepala keluarga menyebutkan bahwa selama dapat diantisipasi hingga tingkat ketahanan tertentu, faktor kualitas udara bukan faktor yang terlalu mengganggu. Namun, dari segi kualitas kesehatan lingkungan, kualitas udara di hunian tersebut dinilai buruk.
b. Food Protection
Tinggal di tempat pembuangan sampah, setiap individu sudah harus membiasakan diri untuk beraktifitas sehari-hari ditengah-tengah sampah. Termasuk harus makan diantara kepungan sampah. Para ibu-ibu rumah tangga pada umumnya juga beraktifitas sebagai pemulung pada sebagian besar waktu kerjanya, namun mereka juga harus memasak makanan sendiri, karena akan terlalu mahal jika harus memb eli makanan dari luar. Oleh karena itu bahan masakan, air untuk memasak dan masakan yang siap saji akan sangat berpotensi tercemar udara, air, kotoran dan debu dari kumpulan sampah disekitar rumahnya. Oleh karena itu, sebagian besar responden mengatakan bahwa kualitas perlindungan terhadap makanan tergolong buruk bagi mereka. Belum lagi tingkat kebersihan saat menyantap hidangan tersebut. Dimana dalam aspek kesehatan masyarakat, upaya preventing justru diupayakan dengan mencuci tangan sebelum makan.
c. Solid Waste Management,
Hunian di Kampung Jurangmangu merupakan hunian yang tidak permanen. Masyarakat pada umumnya membangun rumahnya dengan menggunakan bahan-bahan yang dikumpulkan dari tempat sampah itu sendiri. Karena itu tentunya, hunian yang dibangun tidak memenuhi standar kelayakan bangunan dan kelengkapannya tidak ditunjang dengan MCK yang pantas. Di Kampung Jurangmangu, MCK dibangun secara swadaya oleh penghuni diatas aliran drainase yang mengalir ke kali Jurangmanggu. MCK tersebut juga dimanfaatkan penduduk untuk mandi dan mencuci pakaian juga. Ketiadaan MCK secara masing-masing tersebut dan juga kurang layaknya MCK komunal mereka, menyebabkan hampir seluruh kepala keluarga mengatakan bahwa kualitas penanganan limbah padat dapat dikatakan kurang.
d. Water Quality
Dari segi kualitas air, di kampung Jurangmangu, air bersih tidak tersedia. Air minum juga harus dibeli dari pengecer setiap harinya. Pemerintah Daerah tidak mengizinkan dibuatnya sumur air tanah dikawasan tersebut, karena dinilai malah akan mencemari kualitas air tanah melalui lubang sumur bor tersebut. Oleh karena itu, baik untuk mandi dan mencuci, penduduk kampung jurangmangu harus bergantung kepada air dari kali Jurangmangu, yang kualitasnya sudah tidak memadai karena berpotensi tercemar baik dari kawasan perumahan yang ada disepanjang kali tersebut maupun limpasan dari tempat pembuangan sampah itu sendiri. Sulinya penyediaan air bersih dan rendahnya kualitas air yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat, menyebabkan sebagian besar kepala keluarnya menyebutkan bahwa aspek kualitas air mereka kurang.
e. Housing Quality
Sebagai hunian yang dibangun diatas tanah yang tidak memiliki kejelasan status. Dan juga memiliki peluang untuk dibongkar ketika terjadi penertiban, maka tidak ada masyarakat yang berani membangun huniannya secara permanen. Hunian yang mereka tinggali sekarang sangat tidak memenuhi standar kualitas bangunan yang layak huni dan sehat. Pada umumnya dindingnya terdiri dari triplek atau kayu lapis. Dan lantainya masih tanah. Hunian tersebut juga tidak memiliki saluran drainase, sehingga limbah rumah tangga dialirkan begitu saja ke cekungan-cekungan yang mengarah ke saluran drainase terdekat.
f. Vector Control
Kesehatan masyarakat sangat mementingkan upaya pencegahan dibanding mengobati. Karena itu pengendalian hama pembawa penyakit sangat diperhatikan. Namun di tempat pembuangan sampah, hal tersebut sangat sulit dipenuhi, karena kawasan ini penuh dengan genangan air yang berpotensi menyebarkan malaria dan demam berdarah, dan juga sisa-sisa makanan yang merupakan sasaran dari tikus-tikus yang membawa penyakit menular. Kurang higienisnya makanan juga menyebabkan baik anak-anak dan dewasa terjangkit parasit seperti cacing. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa penyakit bawaan vektor ini sangat banyak, seperti demam berdarah, hepatitis dan cacing.
4.2. Pembahasan
Kesehatan masyarakat berarti meletakkan kebutuhan kolektif bagi semua untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kecuali dalam beberapa kasus, masalah kesehatan di permukiman kumuh tidak nyata berbeda dengan di kawasan permukiman lainnya, namun solusi yang perlu diangkat akan dapat sangat berbeda. Perbedaan utama berputar dalam mengakomodasi tingkat kekumuhan dan kepadatan tinggi penduduk yang tersebar di area yang luas. Dengan demikian, kesehatan masyarakat perkotaan akan meliputi upaya bagaimana meningkatkan akses masyarakat kepada layanan kesehatan.
Hal yang sangat penting adalah intervensi luar sistem masyarakat tersebut dalam melengkapi fungsi-fungsi kesehatan dasar yang diperlukan, terutama dari sektor infrastruktur: air bersih, sanitasi dan pengelolaan limbah. Sebagai contoh, beberapa masalah kesehatan di kampung Jurangmangu, seperti penyakit diare dan pernapasan, memiliki solusi melalui layanan kesehatan perkotaan seperti air bersih, sanitasi, dan ventilasi rumah tangga. Kesehatan masyarakat perkotaan juga berarti peningkatan perhatian terhadap penyakit vektor (seperti malaria dan demam berdarah) harus terus bertambah.
Pada tahun 2015, setengah penduduk negara berkembang akan tinggal di kota dan diperkirakan akan menjadi dua kali lipatnya dalam 30 tahun ke depan . Tingginya konsentrasi penduduk pada kawasan perkotaan tidak terhindari akan mengakibatkan bertambahnya kawasan-kawasan kumuh seperti kampung Jurangmangu ini.
Tantangan untuk menciptakan standar kesehatan bagi masyarakat perkotaan menjadi sangat berat jika kita tidak bisa menempatkan antara prinsip-prinsip kesehatan dengan masalah sosial dan ekonomi. Kesehatan masyarakat dan pribadi akan menjadi prioritas kesekian jika kita mengambil sudut pandang masyarakat yang secara sosial terpinggirkan dan secara ekonomi sulit diberdayakan.
Kawasan perkotaan pada umumnya memiliki konsentrasi pelayanan kesehatan (publik dan swasta) yang memenuhi standarisasi ISO pelayanan kesehatan. Namun hal tersebut tidak akan mampu menjangkau masyarakat marginal yang secara adminitratif bukan penduduk resmi karena diluar catatan sipil wilayah administratif setempat. Sehingga walaupun pada wilayah administratif yang bersangkutan memiliki standar pelayanan kesehatan masyarakat yang berkualitas, namun jika masyarakat miskin tersebut tidak memiliki akses menuju pelayanan tersebut, maka tujuan kesehatan masyarakat tidak akan tercapai.
Berdasarkan Rencana Strategis Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 , program kesehatan Provinsi DKI juga meliputi kepada penyediaan prima yang bermutu, efisien, cepat transparan, mudah diakses, murah, ramah dan berkepastian hukum. Namun pada kenyataannya fasilitas tersebut hanya dapat dinikmati oleh masyarakat mampu yang memiliki akses kepada layanan tersebut, dan masyarakat seperti penduduk kampung Jurangmangu malah semakin terkucilkan dari informasi dan pelayanan kesehatan yang memadai.
Rencana strategis Dinas Kesehatan DKI Jakarta tentunya sudah memperkirakan proyeksi pertumbuhan penduduk, dimana pada dalam dalam 2012 maka jumlah penduduk DKI akan melampaui 10 juta dan setengahnya akan lahir dalam kemiskinan. Hasil penelitian WHO menyatakan bahwa secara umum akses kesehatan bagi masyarakat kota lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Dan pada kawasan perkotaan, justru terjadi kesenjangan besar yang terus berkembang antara status kesehatan masyarakat kelas menengah perkotaan dan mereka yang tinggal di pinggiran.
Saat ini berdasarkan Data dari Badan Pusat Statistik Tahun 2010, terdapat sejumlah 312.180 jiwa atau 3,48 persen penduduk Kota DKI Jakarta yang tergolong miskin . Dan jika mereka mengalami masalah yang sama dengan masyarakat Kampung Jurangmangu yang tidak memiliki akses kepada air, layanan kesehatan dan pelayanan sanitasi. Maka upaya pengembangan kesehatan masyarakat akan sulit dilakukan.
Aspek kesehatan ibu dan anak yang merupakan satu dari sebelas aspek kesehatan masyarakat misalnya, juga menunjukkan kecenderungan tertinggi untuk terjadi pada kawasan perkotaan, yakni sebesar 40%. Masyarakat miskin perkotaan menjadi sangat rentan karena mereka tidak mungkin untuk memiliki tabungan dan persediaan pangan yang baik. Padahal kesehatan masyarakat diupayakan justru untuk mencegah berkembangnya penyakit di tingkat komunitas dan kemudian menjadi pandemi yang masyarakat dalam lingkup yang lebih besar lagi, misalnya dalam skala kotamadya Jakarta Selatan atau malah DKI Jakarta.
Saat ini, Kampung Jurangmangu menjadi tempat yang cukup sering menjadi tempat berjangkitnya penyakit menular seperti hepatitis, demam berdarah, radang paru-paru, kolera, dan malaria. Hal ini dikarenakan di Kampung Jurangmangu, ketersediaan air bersih dan kondisi sanitasi masih sangat terbatas dan kesadaran untuk melakukan tindakan pencegahan masih sangat jarang. Prinsip-prinsip kesehatan masyarakat masih jauh dari sasaran Jakarta Sehat untuk Semua.

5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kota yang sehat membutuhkan air yang bersih, mudah diakses, dan terjangkau; sanitasi; rumah yang nyaman; udara yang bersih, dan jauh dari sumber penyakit. Tempat tinggal yang buruk akan rentan terhadap penyakit, pencemaran udara, pencemaran tanah dan pencemaran air, sehingga memperburuk risiko kesehatan lingkungan bagi kaum miskin di kawasan perkotaan. Kurangnya jaring pengaman dan sistem dukungan sosial, seperti asuransi kesehatan, serta kurangnya hak milik dan hak kepemilikan, akan berkontribusi kepada kerentanan kesehatan masyarakat miskin di perkotaan.
Akses kesehatan yang tepat dan mudah terjangkau bagi masyarakat miskin perkotaan tidak akan dapat dilaksanakan tanpa pemahaman yang jelas mengenai prinsip-prinsip kesehatan masyarakat . Sangat disayangkan bahwa, pembuat kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan internasional tidak punya cukup informasi mengenai kondisi kesehatan masyarakat miskin perkotaan. Saat ini data spesifik bagi kesehatan penduduk perkotaan, seringkali sangat kurang dari segi berikut ini : Pertama, data kesehatan biasanya menyamaratakan kemampuan ekonomi semua penduduk kota (termasuk kaya dan miskin) secara rata-rata. Kedua, kaum miskin di kawasan perkotaan sering diabaikan sama sekali. Status ilegal informal karena masyarakat miskin perkotaan umumnya tinggal dikawasan yang ilegal dengan mata pencaharian disektor informal memberikan fakta bahwa masyarakat miskin menjadi tidak terjaring dalam kerangka kesehatan masyarakat perkotaan sama sekali. Lebih lanjut, data kesehatan biasanya didasarkan pada survei rumah tangga. Ini berarti bahwa kebanyakan survei tidak menghitung tunawisma. Hal ini menjadi penting, ketika daerah perkotaan keterbatasan kemampuan untuk menyediakan hunian menyebabkan banyak warga yang tidur tanpa tempat berlindung atau tempat tinggal permanen.
Salah satu fakta yang paling meresahkan di Kampung Jurangmangu adalah bahwa masyarakat miskin yang tinggal secara ilegal dan berusaha di sektor informal dipaksa untuk tinggal dalam keterbatasan akses kepada layanan kesehatan, informasi kesehatan dan jaminan kesehatan. Mereka dipaksa hidup dengan sampah dan limbah mereka sendiri sehingga keselamatan pribadi dan masyarakat mereka terancam dengan serius.
Winslow menyebutkan bahwa fokus intervensi kesehatan masyarakat adalah untuk mencegah daripada mengobati penyakit melalui promosi perilaku sehat. Karena itu upaya mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain menjadi tindakan intervensi yang penting dalam menjamin kualitas kesehatan masyarakat.
Dengan demikian terdapat beberapa hal yang perlu direkomendasikan untuk memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat bagi masyarakat miskin seperti masyarakat di Kampung Jurangmangu ini, sebagai berikut :
1. Merevisi jangkauan layanan kesehatan kepada kaum miskin di perkotaan
Saat ini fasilitas kesehatan yang ada masih sangat terkonsentrasi di wilayah pusat perkotaan. Sebagai hasilnya, masyarakat pusat kota cenderung memiliki akses lebih besar ke layanan kesehatan formal. Masyarakat miskin menjadi kesulitan untuk memanfaatkan layanan ini, karena biaya menjadi hambatan yang sangat besar. Faktor-faktor sosial menjadi sangat berperan. Hambatan yang juga signifikan di daerah kumuh adalah akses terhadap informasi. Masyarakat miskin perkotaan mungkin tidak memiliki akses ke saluran komunikasi. Program sosialisasi dan pendidikan kesehatan akan sangat terbatas karena petugas layanan kesehatan akan segan untuk bekerja di daerah kumuh. Sehingga terjadi konsekuensi akibat kurangnya layanan di daerah kumuh dalam bentuk ketidakmampuan untuk mengidentifikasi gejala dan penanganan yang sesuai jika terjadi wabah di masyarakat miskin.
Upaya intervensi dibidang kesehatan masyarakat harus dapat menghubungkan antara masyarakat miskin perkotaan dengan sosialisasi hidup sehat. Para pembuat kebijakan perlu dapat mengembangkan program jaminan kesehatan berupa subsidi bertarget, rencana asuransi berbasis masyarakat atau struktur insentif ekonomi, dengan pertimbangan atas kemampuan mereka untuk membayar jaminan kesehatan tersebut.
2. Memilih Intervensi yang tepat
Keberhasilan dari intervensi bagi program-program kesehatan masyarakat perkotaan akan membutuhkan pendekatan yang multi-sektoral dengan melibatkan beragam stakeholder. Saat ini Pemerintah Daerah memiliki kekhawatiran bahwa jika layanan kepada permukiman kumuh ditingkatkan, maka akan menyebabkan terjadi migrasi penduduk miskin dari luar wilayah dan menambah jumlah kawasan kumuh yang ada. Hal ini pada kenyataannya memiliki efek berlawanan dari apa yang berupaya dicapai dalam program kesehatan masyarakat dalam meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan dan prasarana lingkungan. Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kesehatan masyarakat miskin perkotaan melalui intervensi yang tepat sebagai berikut :
a. Memperkuat kapasitas yang tenaga kesehatan untuk melakukan pelayanan kesehatan di lingkungan kumuh.
b. Memberikan sosialisasi hidup sehat yang difokuskan kepada penyebaran informasi mengenai diagnosis, pencegahan dan pengobatan penyakit dibidang kesehatan masyarakat, seperti misalnya mempromosikan teknik penyimpanan air, perilaku higienis, konsumsi makanan bergizi seimbang, peningkatan ventilasi, mekanisme lebih aman untuk mengumpulkan dan membuang limbah padat dan penanggulangan vektor penyakit.
c. Penggunaan teknologi yang tepat guna dalam penyediaan akses kepada air bersih dan sanitasi masyarakat.
d. Penyusunan model investasi masyarakat dengan secara bersama-sama melakukan perbaikan infrastruktur lingkungan berbiaya rendah yang akan menguntungkan semua orang, misalnya MCK plus.
3. Bekerja dengan Sektor Swasta
Terdapat beberapa alasan mengapa sektor swasta harus dilibatkan dalam mencapai tujuan kesehatan masyarakat perkotaan. Pertama, di DKI Jakarta, masyarakat miskinnya masih menerima layanan kesehatan dari sektor swasta, baik dari praktisi obat tradisional (termasuk dukun bayi), orthopaedi, atau apotek setempat. Pada umumnya kualitas layanannya cukup baik. Namun, dalam banyak kasus teradapat ruang yang cukup besar untuk dilakukan perbaikan. Perbaikan dalam kesehatan masyarakat miskin di perkotaan dapat dicapai hanya dengan meningkatkan kualitas layanan yang mereka terima dari penyedia yang sudah sering mereka terima. Kedua, sektor swasta dapat memberikan modal untul dilakukannya promosi-promosi hidup sehat, misalnya perusahaan sabun dapat memberikan bantuan berupa sabun mereka untuk bisa meningkatkan standar kesehatan di kawasan kumuh. Dengan demikian terdapat semacam integrasi antara tujuan dari sektor swasta dan sektor publik, dimana kemitraan dalam kesehatan masyarakat perkotaan harus secara aktif diupayakan.
Pada akhirnya, terdapat banyak rekomendasi dimana Pemerintah, swasta dan masyarakat dapat secara aktif berpartisipasi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dengan membantu mereka yang kurang mampu. Masyarakat Kampung Jurangmangu yang hidup berdampingan dengan sampah harus dibantu. Dengan segala cara agar kualitas kesehatan mereka dapat meningkat. Promosi hidup sehat mudah dipahami dan hidup sehat yang berkualitas merupakan keinginan setiap individu. Namun perjalanan menuju standar hidup sehat merupakan hal yang menjadi tanggung jawab bersama dan setiap individu harus berkontribusi dalam mewujudkan masyarkaat yang sehat dan ideal.

DAFTAR PUSTAKA
Barrow, C. J. Environmental management: principles and practice. Routledge Environmental Management Series. 1999
Badan Pusat Statistik. Statistik Jumlah Penduduk Miskin DKI Jakarta. http://www. jakarta.bps.go.id/BRS/Sosial/Miskin10.pdf. 2010
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009-2012. http://www.dinkes-dki.go.id. 2010
Fee and Acheson, A History of education in public health: Health that mocks the doctors’ rules, OUP, 1991
Population Information Program. Population Growth and Urbanization: Cities at the Forefront Population Reports Newsletter. Center for Communication Programs, Johns Hopkins University School of Public Health http://www.jhuccp.or. 2001
Wang, Limin; Health Outcomes in Low-Income Countries and Policy Implications: Empirical Findings from Demographic and Health Surveys Policy Research Working Paper World Bank, Environmental Division. 2002
Winslow. The Untilled Fields of Public Health. 1920
World Health Organization (WHO). Creating Healthy Cities in the 21st Century Background Paper, UN Conference on Human Settlements: Habitat II, Istanbul 3-14 June, 1996

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s