Peran dan Fungsi Kota Pantai Jakarta

1. PENDAHULUAN
Kawasan pesisir merupakan kawasan dengan potensi tingkat tinggi, karena wilayahnya yang berbatasan dengan perairan, membuatnya terbuka kepada sejumlah peluang yang tidak diberikan oleh kawasan lainnya, seperti kemudahan akses dan dukungan sumberdaya. Sehingga pada saat ini sekitar 70% penduduk dunia tinggal pada kawasan yang berbatasan dengan perairan tersebut.
Kota DKI Jakarta pada awalnya merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, namun seiring dengan perkembangan fungsi, DKI Jakarta yang saat tersebut masih bernama Djakarta, memisahkan dirinya sebagai sebuah kotapraja di bawah walikota yang ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur.
Perkembangan Kota Djakarta kemudian semakin kompleks dengan bertambahnya fungsi-fungsi yang menepikan identitasnya sebagai kota di kawasan pesisir. Fungsi-fungsi yang berkembang saat ini sudah sedemikian dominan sehingga fungsi-fungsinya sebagai kota pesisir (pantai) menjadi tidak terlihat dan terlupakan.
Makalah ini merupakan tugas akhir dari mata kuliah Seminar Perkotaan yang berupaya melihat kembali, bagaimana keberadaan pesisir bagi Kota Jakarta dan fungsi-fungsi kota pesisir apa saja yang masih bertahan pada saat ini, dengan menggunakan perspektif kajian perkotaan melalui aplikasi teori-teori yang dipelajari untuk membahas isu-isu strategis tersebut.


2. TINJAUAN LITERATUR
Bergel (1955) menyebutkan bahwa fungsi kota merupakan keterkaitan antara berbagai faktor seperti struktur ekonomi, sosial, lingkungan, teknologi dan lain sebagainya. Disebutkan juga bahwa fungsi, dapat ditelusuri sebagai titik awal dalam pemahaman struktur sebuah kota, karena fungsi sebuah kota akan sangat dipengaruhi oleh faktor demografi (seperti ukuran dan kepadatan), faktor ekonomi (pendapatan dan pertumbuhan) dan lain sebagainya. Menurut Bergell, dengan memahami keterkaitan kota dengan fungsinya, maka kita dapat melihat perkembangan kota tersebut. Peranan-peranan apa yang dimainkan oleh Kota tersebut dalam konstelasi yang lebih besar. Karena fungsi-fungsi sebuah kota merupakan identitas, jatidiri dari kota yang bersangkutan.
Perkembangan kota, proses urbanisasi dan dampaknya terhadap masyarakat telah melahirkan fungsi-fungsi kota yang baru. Disiplin ilmu urban ekonomi dan geografi perkotaan, upaya mengklasifikasikan suatu kota dilakukan dengan mengidentifikasi fungsi-fungsi utama mereka seperti perdagangan, agama, politik dan lain sebagainya seiring dengan pertumbuhan kota dan kehidupan sosial masyarakatnya.
Pirenne (2006) , dalam studi sejarah tentang kota-kota abad pertengahan di Eropa, telah menganalisis fungsi kota dan struktur mereka kedepan. Pirenne menyebut kota dengan fungsi politik sebagai jenis Liege; dan kota dengan fungsi utama ekonomi sebagai jenis Flemish. Flemish sendiri dapat dikategorikan lebih lanjut menjadi dua yaitu kota komersial dan keuangan, dan kota Industri.
Atas dasar urban process tersebut, Pirenne dan ilmuwan sosial lainnya seperti Thrupp (1989) telah mencoba menganalisis fungsi-fungsi kota di kota-kota abad pertengahan Eropa. Demikian pula Weber yang menyampaikan bahwa proses perkotaan harus didasarkan pada analisis sifat fungsi kota dan hubungannya dengan peranan kota tersebut dalam lingkup yang lebih luas. Sebagaimana yang disampaikan Quinn (1967), bahwa suatu kota merupakan salah satu bagian khusus dari kegiatan ekonomi yang lebih besar.

3. JAKARTA SEBAGAI KOTA PANTAI
Kota Jakarta sebagai tumbuh sebagai Kota pantai, dan hingga kini telah menjelma sebagai Kota Metropolitan dengan berbagai fungsi baru yang jauh lebih dominan daripada fungsi-fungsi kota pantainya. Berdasarkan sejarahnya , perkembangan Kota Jakarta dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Era Sunda Kelapa (397–1527)
Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kelapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.
2) Jayakarta (1527–1619)
Orang Portugis merupakan orang Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Penetapan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, walikota Jakarta, pada tahun 1956 adalah berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527. Fatahillah mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti “kota kemenangan”. Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya yaitu Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.
3) Batavia (1619–1942)
Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. (Lihat Batavia). Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara. Dengan selesainya Koningsplein (Gambir) pada tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan.
4) Djakarta (1942–1972)
Penjajahan oleh Jepang dimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Djakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949. Sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah walikota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur. Pada tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI).
Semenjak dinyatakan sebagai ibukota, perkembangan Kota Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja yang hampir semua terpusat di Jakarta. Sehingga kurun waktu yang sangat singkat jumlah penduduknya menjadi berkali lipat mengikuti fungsi-fungsi barunya yang berlipat juga. Saat ini, di era Jakarta sebagai Kota Metropolitan, Kota Jakarta telah kehilangan identitasnya sebagai kota pantai akibat fungsi kota pantainya yang kalah dominan.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Di Indonesia yang merupakan negara maritim dengan dominasi luas lautan dibanding luas daratan, kota pantai (pesisir) tumbuh dan berkembang disepanjang pesisirnya. Kota pantai sendiri menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan diartikan sebagai suatu kawasan yang terletak berbatasan dengan air dan menghadap langsung ke laut, sungai, danau dan sejenisnya.
Di Jakarta, wilayah waterfront tersebut pada mulanya merupakan simpul akhir untuk tempat penyimpanan sementara serta bongkar-muat barang yang diperdagangkan sebelum dikirim kewilayah lain, dengan kata lain biasa disebut sebagai daerah dermaga atau Dockland.
Sebagai bagian dari kawasan pesisir, pesisir Kota Jakarta mempunyai karakteristik open acces, multi use namun rentan terhadap kerusakan serta perusakan. Tingginya nilai strategis dan dengan terdapat berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif menjadikan Kota Jakarta berperan menjadi prime mover, tidak hanya wilayah sekitarnya, namun juga di tingkat nasional. Bahkan secara historis, Kota Jakarta telah menunjukan bahwa keberadaannya di wilayah pesisir telah mengciptakan fungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat dengan berbagai keunggulan fisik dan geografis yang dimilikinya.
4.1. Perkembangan Peran Kota Pantai Jakarta
Dengan meninjau Kota Jakarta dari berbagai aspek, kita dapat melihat perkembangan Kota Pantai Jakarta, sebagai berikut :

1) Secara sosial,
Jumlah penduduk di pesisir Kota Jakarta saat ini telah menjadi sangat besar, dan menggenerate urbanisasi Kota Jakarta kepada wilayah sekitarnya. Pertumbuhan Kota Pantai Jakarta telah mendorong terciptanya berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Rawamangun, dan Pejompongan. Namun perkembangan penduduk tersebut juga menyebabkan banyaknya mata pencaharian dalam sektor marjinal seperti buruh pelabuhan, nelayan kecil, i ndustri perikanan rumah tangga dan lain-lain, sehingga tingkat penghasilan dan kesejahteraan masyarakat di Kota Pantai Jakarta secara rata-rata menjadi sangat rendah. Tingkat pendidikan yang belum memadai bagi sebagian besar masyarakatnya juga membuat sulit Kota Pantai Jakarta sulit untuk berkembang.
2) Secara administratif
Saat ini, dalam era otonomi daerah, terdapat kecenderungan bawah masing-masing daerah otonom memiliki kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayahnya. Kondisi ini berpotensi memunculkan adanya konflik kepentingan dan tumpang tindih antar sektor dan stakeholders lainnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan pesisir. Kondisi ini muncul sebagai konsekuensi beragamnya sumberdaya pesisir yang ada serta karakteristik wilayah pesisir yang open acces sehingga mendorong wilayah pesisir telah menjadi salah satu lokasi utama bagi kegiatan-kegiatan beberapa sektor pembangunan (multi-use). Jakarta pun demikian, otonomi telah membuat kawasan pesisir Jakarta dimanfaatkan secara tidak terkendali, sehingga mengakibatkan daya dukung dan daya tampung pesisir Kota Jakarta menurun secara siginifikan, yang pada gilirannya, ketika sumberdaya menipis, maka kawasan pesisir Jakarta akan ditinggalkan.

3) Secara fisik,
Kota pantai Jakarta merupakan pusat pelayanan aktivitas sosial-ekonomi, dimana didalamnya terkandung berbagai aset sosial dan ekonomi yang memiliki nilai ekonomi dan finansial yang sangat besar. Akan tetapi pembangunan kota pantai Jakarta saat ini berpotensi memberikan dampak lingkungan yang merupakan akibat dari dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pembangunan yang dilaksanakan di daratan, seperti industri, pariwisata, permukiman dan sebagainya. Demikian pula dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di laut lepas, seperti kegiatan reklamasi pantai utara Jakarta dan pembangunan dermaga perhubungan laut. Pencemaran akibat kegiatan industri, rumah tangga dan pariwisata di darat (land-based pollution sources) maupun akibat kegiatan di laut (marine-based pollution sources) termasuk perhubungan laut.
4) Secara biofisik,
Kota pesisir pada umumnya berpotensi sebagai pusat biodiversity laut tropis dunia karena hampir 30% hutan bakau dan terumbu karang dunia terdapat di Indonesia. Kemudian dengan adanya ancaman kenaikan muka air laut (sea level rise) sebagai akibat fenomena global warming memberikan dampak yang serius yang perlu diantisipasi penanganannya. Kenaikan muka air laut akan mengakibatkan dampak sebagai berikut : (a) meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, (b) perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove, (c) meluasnya intrusi air laut, (d) ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir, dan (e) berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil. Fakta bahwa luas hutan mangrove di Jakarta terus mengalami penurunan dan apabila keberadaan mangrove tidak dapat dipertahankan lagi, maka mengakibatkan terjadinya abrasi pantai, tingkat pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan. Yang pada gilirannya akan merugikan keberadaan Kota Pantai Jakarta itu sendiri.
5) Secara ekonomi,
Kota pantai Jakarta memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam PDB nasional. Selain itu, pada Kota pantai Jakarta juga terdapat berbagai sumber daya masa depan dengan potensi yang belum dikembangkan secara optimal, misalnya potensi perikanan sekaligus investasi yang dapat berperan di dalamnya. Akan tetapi kemiskinan masyarakat pesisir dapat memperberat tekanan terhadap pemanfaatan sumberdaya pesisir menjadi tidak terkendali. Hal ini makin diperparah dikarenakan kerangka hukum yang tidak jelas, tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat yang masih rendah sehingga yang terjadi adalah pemanfaatan berlebih (over exploitated) pada sumberdaya hayati laut.
4.2. Perkembangan Fungsi Kota Pantai Jakarta
Kota Pantai Jakarta merupakan suatu kawasan yang sangat cepat berkembang karena didatangi oleh masyarakat pendatang dengan latar belakang dan asal yang berbeda-beda akan tapi bertujuan sama, yaitu mencari penghasilan yang lebih baik dengan berbagai mata pencaharian. Selain itu karena kedekatannya dengan sumberdaya air, maka pemanfaatan sumberdayanya akan menciptakan suatu kumpulan nelayan yang lama kelamaan akan membentuk suatu perkampungan/komunitas nelayan, seperti kampung nelayan muara baru atau di penjaringan.
Disamping itu tumbuhnya simpul-simpul aktifitas industri dan perdagangan didalamnya akan membuat kota mekar secara fisik, simpul-simpul wilayah perdagangan akan tumbuh pula di sepanjang wilayah pesisir Jakarta Utara yang pada akhirnya akan menciptakan wilayah baru yang didiami masyarakat dengan segala aktifitasnya. Hal ini disebabkan karena fungsi Kota Pantai Jakarta menjadi penampung kegiatan utama kota dan secara struktural kota tersebut berfungsi sebagai pusat pusat pelayanan dan orientasi perkembangan.

Secara umum fungsi Kota Pantai Jakarta merupakan pencerminan dari beberapa kegiatan utama Kota Jakarta. Beberapa fungsi Kota Pantai Jakarta yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut.
1) Fungsi Kota Pantai Jakarta sebagai Kawasan Industri
Kota Pantai Jakarta saat ini masih menghadapi masalah yang mendasar, yaitu tingkat sosio-ekonomi dari sebagian besar masyarakatnya yang masih rendah, dan banyak yang masih di bawah garis minimal untuk hidup layak. dimana tingkat pendidikan yang secara rata-rata masih rendah. Kondisi ini membuat faktor kedisiplinan dan kreatifitas yang tinggi dalam menghadapi hidup menjadi suatu hal yang langka di dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari sebagian besar masyarakat Kota Pantai Jakarta masih bekerja pada sektor marginal, misalnya sebagai nelayan kecil, buruh pelabuhan, buruh kapal dan lain-lain.
2) Fungsi Kota Pantai Jakarta sebagai Kawasan Permukiman
Pembangunan Kota Pantai Jakarta sebagai kawasan permukiman mewah merupakan salah satu aktivitas yang terjadi pada akhir-akhir ini, seperti kawasan permukiman pantai indah kapuk atau kelapa gading. Namun ternyata dalam pelaksanaannya masih belum ideal karena beberapa persyaratan belum bisa dipenuhi, misalnya dalam struktur dan desain bangunan, keserasian dengan bangunan disekitarnya dan ketersediaannya areal yang bebas dinikmati oleh publik (public space).
3) Fungsi Kota Pantai Jakarta sebagai Kawasan Pelayanan Jasa dan Perdagangan.
Salah satu jasa/pelayanan Kota Pantai Jakarta adalah adanya pelabuhan, baik pelabuhan umum maupun pelabuhan perikanan. Bahwa lebih dari 60% transportasi barang dan jasa di Indonesia menggunakan jasa laut di pelabuhan Tanjung Priok (Dirjen Hubla, 2003). Hal ini adalah indikator pentingnya peranan pelabuhan di Kota Pantai Jakarta. Pelabuhan juga berperan strategis dalam usaha meningkatkan pemanfaatan sumberdaya kelautan dimana pelabuhan juga berfungsi sebagai tempat koleksi, produksi, sentra kegiatan dan distribusi sumberdaya tersebut. Disamping itu adanya aktivitas bisnis, perbankan, perkantoran, pertokoan, dan lain-lain di Kota Pantai Jakarta menjadikan kawasan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.
4) Fungsi Kota Pantai Jakarta sebagai Kawasan Wisata
Wilayah pesisir menurut Dahuri (1996) memiliki daya tarik untuk wisatawan karena keindahan dan keaslian lingkungan. Hal ini dimanfaatkan para pengembang untuk menciptakan berbagai wahana wisata seperti Ancol sebagai daerah wisata dan rekreasi adalah karena Kota Pantai Jakarta memiliki daerah untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti berenang, mendayung, mancing, berjemur di pantai yang mana keseluruhan kegiatan tersebut lebih memuaskan dilakukan di wilayah pesisir dari pada tempat lain.
5) Fungsi Kota Pantai Jakarta sebagai Kawasan Konservasi
Degradasi habitat yang banyak ditimbulkan oleh aktivitas manusia di Kota Pantai Jakarta adalah karena adanya pemanfaatan ruang untuk pertambakan, permukiman, industri, wisata, reklamasi pantai, pembangunan infrastruktur dan lain-lain. Degradasi ini akan menyebabkan hilangnya fungsi dari habitat itu sendiri dalam melindungi pantai dan sumberdayanya. Ekosistem sumberdaya Kota Pantai Jakarta merupakan suatu himpunan integral dari komponen hayati dan non hayati yang saling berinteraksi dan berhubungan. Sehingga perlu ada upaya dalam rangka mempertahankan wujud Kota Pantai Jakarta untuk mempertahankannya sebagai kawasan konservasi, pelestarian cagar alam, vegetasi unik dan bangunan bersejarah.

5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Apa sebenarnya fungsi Kota Jakarta yang sebenarnya?. Walikota DKI Jakartamenyebutkan bahwa mereka menempatkan Jakarta sebagai service city, yang dalam artian akan mengembangkan Kota Jakarta sebagai kota perdagangan dan jasa. Fungsi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari fungsi awal Kota Jakarta sebagai Kota Pantai, yaitu perdagangan dan jasa, namun yang membedakan adalah jenisnya. Jika dahulu Jakarta terkenal akan pelabuhannya, sekarang fungsi perdagangan dan jasanya lebih mengarah kepada layanan perdagangan dan jasa didarat.
Apa yang bisa ditangkap dari kecenderungan tersebut. Apakah fungsi tersebut adalah fungsi baru, atau fungsi lama yang dikemas dengan label baru?. Para pakar perkotaan saat ini percaya bahwa, dalam pandangan mereka, kemajuan teknologi informasi dan transportasi justru telah menghambat perkembangan kota. Saat ini kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan bagi Kota Jakarta justru telah menekan kemajuan Kota dan malah menarik para pengadu nasib dan justru menolak para investor.
Fungsi-fungsi yang semula timbul akibat kemajuan positif Kota Pantai Jakarta, sekarang justru malah beralih kepada fungsi-fungsi baru yang tidak sesuai dengan identitas kota. Dengan mengembangkan kawasan secara sprawl dan tidak beraturan kesegala arah, Kota Jakarta yang tadinya adalah Kota Pantai menjadi berkembang sangat besar, tidak terata dan sangat sulit dikendalikan.
Kemacetan, polusi air dan udara dan kawasan kumuh seakan-akan menjadi identitas baru. Hal-hal yang mengganggu tersebut, hanya akan ditolerir oleh para pengadu nasib yang tidak keberatan dengan kondisi tersebut, sementara investor yang justru memiliki kapasitas untuk membangun Kota Jakarta menjadi lebih baik justru malah menghindar. Sulit dibantah bahwa Kota Jakarta mengalami degradasi, dan bukan perkembangan. Degradasi yang sangat mungkin tidak dapat dipulihkan.

Di Kota-kota bagian Selatan dan Barat Amerika Serikat, populasi perkotaan tumbuh dengan cepat, seperti Jakarta. Joel Garreau pada Tahun 1991 menerbitkan buku dengan judul Edge Cities. Diceritakan bahwa kota-kota tua di Amerika, berkembang sporadis tanpa memastikan pentingnya berkelanjutan aglomerasi perkotaan.
Melihat perkembangan fungsi-fungsi Kota Jakarta saat ini, dan membandingkannya dengan fungsi-fungsi ideal kota, maka dapat dimengerti bahwa pada dasarnya, kota diciptakan senyaman mungkin bagi masyarakatnya untuk hidup. Di Jakarta sebagai Pusat Pemerintahan, Pemimpin Kota memiliki kewajiban untuk membangun kota-kota mereka. Sedangkan Pemimpin Negara harus fokus pada kesejahteraan bangsa secara keseluruhan dan tidak mendukung setiap wilayah tertentu.
Sebagai Kota Pantai yang juga Ibukota Negara, Kota Jakarta harus mempertimbangkan baik-baik setiap kebijakan yang akan diambil dan diaplikasikan agar dapat mempertahankan kedua fungsi tersebut secara selaras. Para pengambil kebijakan di tingkat lokal dan nasional harus mempertahankan netralitas dalam mengambil keputusan, namun tetap memperhatikan keseimbangan antara fungsi-fungsi tersebut. Misalnya Walikota menerapkan kebijakan untuk menjaga citra kawasan pusat pemerintahan dari kekumuhan, dan Pemerintah Negara bisa memberikan subsidi dalam membantu penanggulangan kemiskinan dan kebodohan di wilayah pesisir Kota Pantai Jakarta.
Are cities here to stay?. Membayangkan masa depan Kota Pantai Jakarta akan membutuhkan pemahaman terhadap fungsi-fungsi yang mereka emban. Pada akhirnya, memang benar bahwa masa depan Kota Pantai Jakarta akan tergantung pada desakan fungsi-fungsi mereka untuk berkembang.

DAFTAR PUSTAKA
Barrow, C. J. Environmental management: principles and practice. Routledge Environmental Management Series. 1999
Bergel, E.F. Urban Sociology, 109 New York. McGraw Hill. 1955.
Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pedoman Kota Pantai. Direktorat Tata Ruang, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. 2006
Pirenne, Henri dan Ivy E. Clegg. An Economic and Social History of Medieval Europe. Taylor & Francis, 2006
Thrupp. Sylvia L. The merchant class of medieval London, 1300-1500. University of Michigan Press, 1989
Wikipedia. Daerah Khusus Ibukota Jakarta. http://id.wikipedia.org. 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s