Minapolitan sebagai Strategi Pembangunan Daerah

Minapolitan Sebagai Strategi Pembangunan Daerah

Adipati Rahmat

Kajian Pengembangan Perkotaan. Program Studi Pascasarjana. Universitas Indonesia

Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, 10430, Indonesia

adipatirahmat@yahoo.com

 


ABSTRAK

Minapolitan pada dasarnya merupakan sebuah konsep pengembangan daerah yang dititikberatkan kepada pengembangan komoditas-komoditas unggulan di sektor perikanan sebagai basis perekonomiannya. Dengan kecenderungan kegagalan model pembangunan kutub tumbuh secara umum, model-model pengembangan kemandirian di daerah terus menerus digali. Penelitian ini dikembangkan dnegan mengangkat konsep Minapolitan sebagai pendorong kemandirian pembangunan di daerah, melalui kajian terhadap daya dukung dan daya tampung kawasan pesisir.

Keywords : Minapolitan, Daya Dukung, Daya Tampung

1. PENDAHULUAN

Rondinelli (1985) mengatakan bahwa konsep kutub pertumbuhan (growth pole), ditekankan pada investasi sektor-sektor industri-industri padat modal di pusat-pusat produksi utama. Kutub tumbuh ini diharapkan mampu menstimulasi dan menciptakan penyebaran pertumbuhan (spread effect) sehingga berdampak pada pembangunan ekonomi wilayah yang lebih luas.

Minapolitan merupakan satu model pengembangan wilayah berbasis kutub tumbuh dengan mengedepankan pengembangan sektor-sektor unggulan sebagai engine of development.

Kabupaten Seram Bagian Barat merupakan salah satu Kabupaten pemekaran baru yang merupakan daerah tertinggal. Menciptakan pertumbuhan ekonomi dengan berbasis kepada komoditas wilayah merupakan tantangan, mengingat keterbatasan sumberdaya manusia yang ada.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model minapolitan yang berbasiskan kepada daya dukung dan daya tampung wilayah untuk menciptakan strategi pengembangan sebagai kutub tumbuh kemandirian daerah.

2.       MODEL DAN ANALYSIS

Minapolitan merupakan konsep pengembangan ekonomi suatu daerah dengan menggunakan sektor perikanan budidaya sebagai basis perekonomian, dengan komoditas unggulan daerah masing-masing. Dengan basis pengembangan sektor budidaya unggulan sebagai kutub tumbuh, maka secara konseptual Minapolitan akan sangat sesuai untuk diterapkan sebagai strategi pengembangan daerah yang didukung dengan potensi sumberdaya alam tinggi seperti Kabupaten Seram Bagian Barat di Provinsi Maluku ini.

Minapolitan secara konsep menjanjikan teratasinya permasalahan ketimpangan pembangunan karena mampu mendorong desentralisasi dan pembangunan infrastruktur setara kota di wilayah perdesaan, sehingga mendorong penciptaan urbanisasi (way of life) dalam arti positif dan  menanggulangi dampak negatif pembangunan.

Upaya pengembangan kawasan Minapolitan dimaksudkan untuk memberdayakan wilayah pesisir dengan komoditas unggulan, dengan tujuan membangun kemandirian usaha masyarakat pesisir untuk menciptakan kondisi yang lebih baik untuk pertumbuhan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja

Minapolitan akan membangun fungsi-fungsi kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya baik kegiatan perikanan tangkap maupun budidaya mulai dari pra-produksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem minabisnis.

Penelitian ini merupakan penelitian dengan gabungan metode kuantitatif dan kualitatif, menggunakan data-data hasil pengukurang kualitas perairan, untuk dihitung daya dukung dan daya tampung perairan tersebut.

3.       HASIL

Hasil penelitian akan disampaikan dalam sub bab berikut ini.

3.1.    Local Quotient

Untuk menentukan sektor unggulan yang akan dikembangkan sebagai komoditas basis dalam Minapolitan ini adalah analisis LQ (Location Quotient). Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah suatu sektor telah dapat memenuhi kebutuhan wilayah itu sendiri (subsisten), kurang atau justru lebih/surplus. Sektor yang surplus ini adalah sektor yang dikatakan sebagai sektor basis dan memiliki potensi ekspor. Analisis LQ dilakukan dengan membandingkan sektor di suatu wilayah terhadap lingkup yang lebih luas.

Hasil analisis LQ dari komoditas rumput laut jauh adalah sebesar 2,81. Jauh mengungguli komoditas lainnya yaitu KJA dan Kerang Mutiara. Dengan kata lain komoditas rumput laut dapat dijadikan sebagai basis kegiatan ekonomi untuk Minapolitan Seram Bagian Barat.

3.2.    Daya Dukung dan Daya Tampung

Perencanaan pengembangan sistem minapolitan diawali dengan mengenali daya dukung dari kawasan pesisir dari lokasi rencana. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan salah satu pilihan dalam menentukan daya dukung kawasan pesisir yang dalam hal ini adalah perikanan budidaya rumput laut.

Dengan bantuan SIG, secara spasial dipadukan beberapa data dan informasi tentang kondisi hidrooseanografi dalam bentuk lapisan (layer).

Tabel 1. Kondisi Hidrooseanografi

Data tersebut diatas ditumpanglapiskan (overlay) pada data yang lain, sehingga menghasilkan peta kesesuaian daya dukung yang mempunyai tingkat efisiensi dan akurasi yang cukup tinggi.

Gambar 1. Peta Daya Dukung Perairan

Dengan berbasiskan kepada peta daya dukung tersebut, maka daya tampung dari perairan tersebut akan dapat dihitung sebagai berikut.

  • Luasan perairan dalam kategori sangat sesuai untuk budidaya rumput laut adalah seluas 4.207 Ha,
  • Dengan mempertimbangkan alur pelayaran dan jarak antara unit budidaya, maka luasan budidaya yang akan digunakan untuk budidaya rumput laut hanya seluas 60% dari luasan yang sangat sesuai, yaitu 2.524 Ha.
  • Dari kawasan pesisir seluas 2.524 Ha tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa daya tampung bagi budidaya rumput laut yang dapat dikembangkan dalam satu tahun adalah sebanyak 25,241 unit.

3.3.    Strategi Pengembangan Minapolitan

Strategi pengembangan Minapolitan SBB dibedakan kepada 4 sub sistem, yaitu :

1)    Up-stream agribussiness Subsistem

Up-stream agribussiness Subsistem, yaitu kegiatan industri dan perdagangan yang menghasilkan sarana produksi primer seperti alat tangkap, kapal, dan lain sebagainya. (Rahardi et.al., 2001:6). Dalam Minapolitan SBB ini subsistem hulu difokuskan kepada penyediaan benih rumput laut yang berdasarkan hasil perhitungan jumlah unit rumput laut yang dapat dikembangkan dalam setahun, maka diperkirakan pada tahu yang sama akan dibutuhkan bibit sebanyak 1.211.557 bibit.

2)    Subsistem Minapolitan Usaha Tani

Subsistem usaha tani (on-farm agribussiness) merupakan kegiatan produksi perikanan primer, yakni pembudidayaan rumput laut. Berdasarkan hasil perhitungan daya tampung, maka jumlah rumput laut yang akan dibudidayakan adalah  sejumlah 25.241unit. Diperkirakan dari jumlah tersebut mampu dihasilkan sekitar 329.544 ton pertahun rumput laut basah.

3)    Subsistem Minapolitan Hilir

Down-stream agribussiness Subsistem merupakan kegiatan ekonomi yang mengolah komoditi budidaya menjadi produk olahan. Saat ini masyarakat Kabupaten SBB baru mengembangkan budidaya rumput laut hingga sebagai produksi basah, seharga Rp.5.000.- per kilogramnya. Dengan melakukan pelatihan pengolahan rumput laut menjadi karaginan, maka harga rumput laut olahan tersebut bisa mencapai Rp. 180.000.- per kilogram.

Down-stream agribussiness juga mencakup perkiraan jalur pemasaran produk yang dihasilkan. Berdasarkan hasil kajian, maka pemasaran hasil olahan akan ditujukan kepada

  • Kota Piru, Kabupaten SBB,
  • Kota Ambon, Provinsi Ambon,
  • Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Tenggara
  • Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur,
  • Ekspor ke Jepang, Taiwan dan Singapura.

4)    Subsistem Minapolitan Penunjang

Agrosupporting institutions subsistem diarahkan untuk menyediakan jasa-jasa pendukung kegiatan Minapolitan SBB seperti penyediaan layanan perbankan, pelatihan bagi masyarakat pembudidaya, penyediaan infrastuktur, dan sarana prasarana.

Sarana yang dibutuhkan untuk mendukung minapolitan SBB ini adalah :

  1. Peningkatan kualitas Jaringan jalan dari Dusun Wael (Pusat Produksi) ke Kota Piru (Pusat Pengolahan dan Pemasaran),
  2. Pembangunan dermaga nelayan di Dusun Wael (Pusat Produksi),
  3. Pelatihan pengolahan rumput laut di Dusun Wael,
  4. Pembangunan Pabrik Pengolahan Rumput Laut di Kota Piru,
  5. Penyediaan sarana listrik dan air bersih di Dusun Wael.

Kelembagaan juga merupakan sarana penunjang yang menjadi bagian dari strategi pengembangan Minapolitan SBB. Dimana kelembagaan tersebut akan terdiri dari masyarakat nelayan, Pemerintah dan Swasta. Kelembagaan ini akan berguna dalam memfasilitasi hubungan antara kelompok nelayan dengan Swasta, misalnya untuk menentukan harga yang saling menguntungkan.

3.4.    Investasi Budidaya Rumput Laut

Untuk menciptakan program yang tepat sasaran dan realistis, maka dikembangkan rencana investasi yang riil, sebagai berikut.

  • Berdasarkan perhitungan, kebutuhan investasi budidaya rumput laut per unit di Kabupaten SBB adalah Rp. 38.125.000.-.
  • Maka nilai total investasi yang dibutuhkan adalah senilai Rp. 962.304.630.750.
  • Dari investasi tersebut, diperkirakan akan mendatangkan keuntungan kotor sejumlah Rp. 1.318.174.348.493.-.
  • Keuntungan tersebut akan mampu memberikan penghasilan sebesar Rp. 234.983,-  bagi 126.204 tenaga kerja yang dilibatkan.
  1. 4.       KESIMPULAN

Minapolitan merupakan konsep pengembangan ekonomi suatu daerah dengan menggunakan sektor perikanan sebagai basis perekonomian, dengan komoditas unggulan daerah masing-masing. Dengan basis pengembangan sektor unggulan sebagai kutub tumbuh kemandirian daerah, maka secara konseptual Minapolitan akan sangat sesuai untuk diterapkan sebagai strategi pengembangan daerah pesisir di Indonesia.

Berkembangnya kota sebagai pusat pertumbuhan temyata tidak memberikan trickle down effect, tetapi justru menimbulkan efek pengurasan sumberdaya dari wilayah sekitarnya (backwash effect). Urban bias tersebut terjadi akibat kecenderungan pembangunan yang mendahulukan pertumbuhan ekonomi melalui kutub-kutub pertumbuhan (growth poles) yang semula diarahkan untuk menimbulkan terjadinya tricle down effect dari kutub pusat pertumbuhan ke wilayah hinterland-nya, namun ternyata net-effect-nya malah menimbulkan pengurasan sumberdaya secara besar-besaran (masive backwash effect), dengan perkataan lain, secara ekonomi telah terjadi transfer neto sumberdaya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan secara besar besaran.

Pengembangan Minapolitan di Kabupaten Seram Bagian Barat ini menawarkan proses penciptaan nilai tambah pada tingkat perdesaan. Yang artinya, kawasan perdesaan didorong menjadi kawasan yang tidak hanya menghasilkan bahan primer, melainkan juga mampu menghasilkan bahan bahan olahan atau industri hasil perikanan.

Metode dan model digunakan melalui analisis daya dukung dan daya tampung untuk mengetahui berapa kemampuan daerah untuk mengembangkan Minapolitan yang kemudian diturunkan kedalam strategi-strategi subsistem yang terintegrasi.

Dengan demikian Minapolitan SBB ini diharapkan dapat mendorong penduduk perdesaan untuk tetap tinggal di perdesaan melalui investasi di wilayah perdesaan dengan menciptakan daerah yang mandiri dan otonom.

References

Rustiadi E, and Hadi S. Pengembangan Agropolitan Sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan Dan Pembangunan Berimbang. 2004

Rondinelli, A.D. Applied Methods of Regional Analysis   The Spatial Dimensions of Development Policy.1985

Hansen, N. The Role of Small and intermediate Sized Cities in National Development Processes and Strategies. 1982

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s