Defisit Air Tanah pada Kawasan Perkotaan. Studi Kasus: Kota Jakarta Utara

Defisit Air Tanah pada Kawasan Perkotaan
Studi Kasus: Kota Jakarta Utara
Adipati Rahmat
Urban Development Study. Universitas of Indonesia
UI Campus, Salemba, Central Jakarta, 10430, Indonesia
adipatirahmat@yahoo.com

ABSTRAK
Di Kota Jakarta Utara, 60% kebutuhan air sehari-hari masih dipenuhi melalui pengambilan air tanah, dan dengan tidak seimbangnya peningkatan jumlah penduduk terjadilah defisit air tanah. Dengan memahami Kota sebagai sebuah sistem lingkungan, keseimbangan dapat dimodelkan untuk mengupayakan keberlanjutan daya dukung air tanah bagi penduduk Kota Jakarta Utara.
Kata kunci: Air tanah, systems thingking, sustainability, dan powersim.

1. PENDAHULUAN
Kotamadya Jakarta Utara memiliki 5 (lima) Kecamatan yang berbatasan langsung dengan perairan, yaitu Kecamatan Penjaringan, Kecamatan Pademangan, Kecamatan Tanjung Priok, Kecamatan Koja, dan Kecamatan Cilincing. Sebagai bagian dari Megapolitan DKI Jakarta, kelima Kecamatan tersebut memiliki tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi sebagai akibat dari kosenterasi kegiatan ekonomi yang berpusat di kawasan pesisir. Tingginya tingkat kepadatan secara lurus berkorelasi terhadap tingkat penggunaan air tanah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kependudukan terhadap daya dukung air tanah dengan menggunakan model sistem dinamis.

2. MODEL
Kotamadya Jakarta Utara, seperti kota di belahan dunia manapun tetap merupakan sebuah bagian dari sistem alam yang sangat kompleks (Barrow, C. J. 1999). Untuk dapat memahami sistem kota dalam hubungannya dengan daya dukung air tanah, digunakanlah pendekatan sistem dinamis dalam suatu model perkotaan (Ford, Andrew. 1999).
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan Software Powersim untuk memodelkan hubungan antara kependudukan Kota Jakarta Utara terhadap daya dukung air tanah. Simulasi dengan Powersim menghendaki agar setiap variabel kunci didetailkan ke dalam suatu sub sistem dari variabel-variabel yang bersangkutan (Muhammadi, Erman, dan Budhi Soesilo. 2001). Dengan demikian, diagram stock and flow dari model daya dukung air tanah adalah sebagai berikut.
Gambar 1. Model Daya Dukung Air Tanah

3. ANALISIS
Dari diagram stock and flow variabel kunci sub sistem air tanah di atas dapat dilihat bahwa variabel-variabel turunan yang diperlukan untuk dapat menghasilkan simulasi adalah data sebagai berikut:
• Potensi Air Tanah: Jumlah Air Tanah yang ada setiap tahunnya, yaitu sejumlah 532.000.000 liter per tahun (BMKG, 2010),
• Imbuhan PDAM: Penambahan Air dari PDAM yang berasal dari pengolahan air sungai, sebesar 295.650.000 liter per tahun (BMKG, 2010),
• Penduduk: Jumlah penduduk pada tahun awal simulasi (Tahun 2006), yaitu 1.072.580 jiwa (BPS, 2006),
• Konstanta Pemakaian Air: Tingkat pemakaian air tanah per orang setiap tahunnya, yaitu 54.750 liter per tahun (BMKG, 2010),
Untuk membandingkan data riil dengan hasil simulasi, digunakan data riil berdasarkan hasil tabulasi kependudukan dari BPS tahun 2006 hingga 2010, sebagai berikut:

Gambar 2. Grafik Kebutuhan Air Tanah Kota Jakarta Utara selama 5 Tahun (2006-2010)
Tabulasi di atas kemudian dijalankan ke dalam program Powersim untuk didapatkan hasil simulasi sebagai berikut.

Tabel 1. Simulasi Variabel kebutuhan air tanah terhadap Waktu

Data variabel sub sistem kebutuhan air tanah tersebut dijalankan ke dalam program Powersim untuk didapatkan hasil simulasi sebagai berikut.

Gambar 3. Kebutuhan Air Tanah Kota Jakarta Utara selama 5 Tahun (2006-2010)
Berdasarkan hasil simulasi Powersim dari Sub sistem pengambilan air tanah, terlihat bahwa pengambilan air tanah dari selalu meningkat setiap tahunnya secara tetap. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan jumlah penduduk yang berdasarkan simulasi pertumbuhan penduduk juga terus meningkat dari tahun ketahun secara konstan.
Uji validasi terhadap model daya dukung air tanah di Kota Jakarta Utara ini dilakukan dengan metode MAPE (Mean Absolute Percentage Error)
Tabel 2.
Hasil Uji Validasi masing-masing Sub sistem

Tahun Penggunaan Air Tanah Penduduk
Simulasi Data Simulasi Data
2006 58,723,755,000 58,723,755,000 1,072,580 1,072,580
2007 58,988,011,897 58,800,733,500 1,077,406 1,073,986
2008 59,253,457,951 59,700,111,750 1,082,254 1,090,413
2009 59,520,098,511 59,832,278,250 1,087,125 1,092,827
2010 59,787,938,955 59,751,412,500 1,092,017 1,091,350
SUM 296,273,262,314 296,808,291,000 5,411,382 5,421,156
MAPE 0.036117 0.037800
Dari tabel hasil uji validasi, terlihat bahwa hasil uji validasi penguunaan air tanah menghasilkan nilai validitas yang sangat akurat, yakni kurang dari 5%. Dengan demikian secara umum berdasarkan hasil uji validitas tersebut, dapat dikatakan bahwa model daya dukung air tanah yang dibentuk telah mampu menggambarkan kondisi yang sesungguhnya.
Berdasarkan simulasi model Kota Jakarta Utara dari segi daya dukung lahan terhadap air tanah, diperoleh simulasi sebagai berikut.

Tabel 3.
Laju Kelebihan Pengambilan Air Tanah bagi 5 Kecamatan

Dapat dilihat bahwa, pada Tahun 2006 dengan tingkat pemakaian air tanah sebesar 46% dari 150 liter setiap hari bagi setiap jiwa, maka dapat disimulasikan tingkat pemakaian tanah setiap tahunnya. Kemudian dengan menghitung bahwa daya dukung air tanah yang diperbolehkan adalah senilai 35% dari total air tanah, maka dapat pula disimulasikan berapa selisih kelebihan pengambilan air tanah setiap tahunnya.
Berdasarkan hasil simulasi, dari lima Kecamatan Kota Jakarta Utara, hanya Kecamatan Pademangan yang masih belum mengalami defisit air tanah. Keempat Kecamatan lainnya, telah mengalami kelebihan pengambilan air tanah. Kecamatan Tanjung Priok adalah Kecamatan dengan kelebihan pengambilan air tanah terbesar dari empat Kecamatan yang mengalami kelebihan pengambilan air tanah.
Strategi penanganan dalam rangka mengembalikan daya dukung air tanah harus dilakukan, karena kelebihan pengambilan air tanah akan semakin memperburuk keseimbangan daya dukung air tanah, yang pada gilirannya akan memperburuk kualitas hidup di Kota Jakarta Utara. Strategi untuk mengembalikan keseimbangan pengambilan air juga perlu dilakukan bagi Kecamatan Pademangan yang saat ini masih mengalami surplus pengambilan air.
Pada Tahun 2006, dengan asumsi bahwa pengambilan air tanah hanya dilakukan oleh kegiatan domestik, dan bukan industri, bagi Kecamatan Pademangan masih terdapat surplus air tanah sebesar 587.150.857 liter. Namun seiring pertambahan jumlah penduduk, jumlah tersebut semakin berkurang setiap tahunnya, hingga ditahun 2024 (time 18) cadangan air tanah bagi Kecamatan Koja akan habis dan tahun berikutnya mulai defisit. Dengan demikian perlu direncanakan upaya-upaya adaptasi agar daya dukung air tanah Kota Jakarta Utara dapat berkelanjutan.
Tabel 4.
Simulasi Peralihan Surplus dan Defisit (Kelebihan) Pengambilan Air Tanah Kecamatan Pademangan

4. KESIMPULAN
Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Di Kota Jakarta Utara, ketergantungan pasokan air bersih dan air tanah telah mencapai ± 70%. Hasil simulasi model Kota Jakarta Utara telah menyatakan terjadinya defisit air pada beberapa kecamatan-kecamatan di Kota Jakarta Utara, yaitu Kecamatan Penjaringan dan Kecamatan Koja.
Dalam penelitian ini, masyarakat mempengaruhi daya dukung kota dalam bentuk tingkat eksploitasi air tanah. Eksploitasi air tanah yang berlebihan telah mengakibatkan terjadinya defiti air tanah yang mengganggu keseimbangan lingkungan.
Namun dengan memahami bagaimana kelebihan pengambilan air tanah yang mengakibatkan defisit air tanah terjadi, kita dapat menghindari terjadinya hal tersebut dengan melakukan berbagai tindakan prefentif, semisal mengurangi penggunaan air tanah dan meningkatkan produksi air bersih olahan. Dengan demikian keseimbangan lingkungan di lingkungan perkotaan akan menjadi seimbang dan berkelanjutan.

Daftar Pustaka
Barrow, C. J. 1999. Environmental management: principles and practice. Routledge Environmental Management Series.
BMKG. 2010. Data Potensi Air Tanah Kota DKI Jakarta.
BPS, 2010. Data Kependudukan Provinsi DKI Jakarta.
Ford, Andrew. 1999. Modelling the Environment: An Introduction to System Dynamics. Models of Environment Systems. Island Press. Washington. D.C. Covelo, California.
Muhammadi, Erman Aminulla, dan Budhi Soesilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis: Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. Penerbit UMJ Press. Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s