Teori Kota Pesisir

Kota Pesisir (Waterfront City) adalah kawasan perkotaan yang berada di tepi air (laut, danau, atau sungai), yang memiliki karakteristik open access dan juga multi fungsi, namun sangat rentan terhadap kerusakan serta perusakan (Rahmat, 2011). Keberadaannya di tepi air tersebut membuat Kota Pesisir memiliki pengaruh langsung dan tidak langsung dari darat dan laut. Dengan demikian, keseimbangan Kota Pesisir akan sangat dipengaruhi oleh proses lingkungan pesisirnya sendiri. Sebagai kota yang berada di tepi air, Kota Pesisir memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan kota-kota yang berbasis pada wilayah daratan. Sumberdaya alam di Waterfront City khususnya yang berada di wilayah pesisir dan lautnya bersifat dinamis serta sifat kepemilikan laut yang merupakan aset umum (common property). Hal-hal inilah yang menyebabkan Kota Pesisir ini dimanfaatkan untuk beragam aktivitas yang kemudian menciptakan fungsi yang beraneka ragam.


Kota Pesisir dapat dibedakan berdasarkan dua macam aspek, yaitu berdasarkan pesisirnya dan berdasarkan populasinya (Rahmat, 2011). Berdasarkan pesisirnya, kita dapat membedakan suatu Kota Pesisir kepada tiga jenis, yaitu Kota Pesisir Laut, Kota Pesisir Sungai, dan Kota Pesisir Danau. Jika suatu kota berbatasan langsung dengan Laut, Sungai ataupun Danau secara sekaligus, maka perairan yang memberikan fungsi yang dominan bagi Kota Pesisir tersebut, adalah perairan yang menjadi identitas dari Kota Pesisir tersebut. Sedangkan berdasarkan populasinya suatu Kota Pesisir dapat dibedakan kepada Kota Pesisir Mikro, Kota Pesisir Kecil, Kota Pesisir Sedang, dan Kota Pesisir Besar. Dengan memahami jenis-jenis suatu Kota Pesisir maka kita akan mendapatkan pendekatan yang berbeda dalam upaya melihat keberadaan suatu Kota Pesisir. Kota Pesisir Laut akan memiliki peluang dan ancaman yang berbeda dengan Kota Pesisir Sungai. Sedangkan Kota Pesisir Mikro akan memiliki potensi dan permasalahan yang berbeda dengan Kota Pesisir Besar.

Kota Pesisir merupakan kawasan yang strategis dengan berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya sehingga berpotensi menjadi penggerak pengembangan wilayah nasional. Bahkan secara historis menunjukan bahwa wilayah pesisir ini telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang dimilikinya.

Indonesia sendiri sebagai negara kepulauan memiliki lebih dari 150 Kota Pesisir yang berada di sepanjang garis pantainya, yang merupakan garis pantai yang kedua terpanjang di dunia. Intensitas kegiatan dan potensi Kota-kota Pesisir yang bertebaran diseluruh penjuru nusantara, memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh; karena kita tidak ingin, Kota-kota Pesisir kita yang indah dan mempesona tergerus oleh abrasi, terintrusi oleh air laut dan tergenang banjir rob.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s